Ridefulness

“upaya untuk memperhatikan dan merasakan, tanpa berupaya menghakimi, sensasi fisik, emosi dan pikiran terhadap aspek2 riding saat berkendara motor pada saat ini, dan bukan yang lain”

10568866_10204302893633173_41025587644674598_n

Sebagai orang yang berhobby naik motor, tentunya salah satu tujuan naik motor adalah agar bahagia. Lha terus bagaimana supaya berbahagia saat naik motor ? Ooo gampang, ya naik motor yang bagus, kenceng, cc besar, melewati jalan yang mulus, cuacanya sejuk, pemandangan bagus, ditemenin sama pembonceng yang cantik, hihihi semoga bos Nyonyah nggak baca blog ini, tapi kalo pun baca ya nggak apa2, lha bos Nyonya saya cantik jelita jhe. Lhaaa tapi kan susah mendapatkan hal2 ideal itu semua pas kita riding, iya toh ? Tidak setiap kali kita riding, semua hal ideal tersebut dapat kita dapatkan. Most of the time justru kita terpaksa berhadapan dengan hal2 yang serba tidak ideal. Lhaa tapi kan tetep aja, kita pengennya hepi alias bahagia setiap kali riding to ?

Naa kalo dari pengalaman saya yang sebetulnya juga belum banyak ini, ada satu hal yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan kebahagiaan saat riding, yaitu : ridefulness 🙂 Opo meneh iki ? Kalo nyari di kamus atau google ya nggak akan nemu artinya itu, lha wong itu saya ngarang sendiri kata2nya, biar pada mau baca blog saya ini, hehehe. Definisinya ya yang ada di awal tulisan itu :

“upaya untuk memperhatikan dan merasakan, tanpa berupaya menghakimi, sensasi fisik, emosi dan pikiran terhadap aspek2 riding saat berkendara motor pada saat ini, dan bukan yang lain”

Jadi ya kita dengan upaya sadar berusaha memperhatikan setiap sensasi indera, perasaan dan pikiran kita, tanpa berusaha menghakimi. Naa ini nggak gampang lhoo. Dan ini diterapkan ke aspek apapun pas kita riding, ya terkait motor, terkait lingkungan, terkait lain2nya juga. Misalkan pas kita naik motor, terus ada sesuatu yang nggak mengenakkan, naaa justru ini seru, coba sambil riding kita berusaha telusuri, apa ya… yang bikin nggak enak. Apa mesin, apa kopling, apa kaki. Terusss kita berusaha rasakan, dan focus, naaa tapi tanpa menghakimi, tanpa mengumpat, tanpa misuh2, disadari aja, wahaa lagi ada masalah nih, coba dicari. Sukur2 di jalan kita bisa sambil troubleshooting. Kalo pun sambil ada yang bonceng, terus yang bonceng marah2, yaaa didengerin aja, sambil dalam hati mikir “wahaa, yang bonceng lagi marah2 nih, kira2 abis ini omong apa lagi yaa… coba saya tebak… eee bener… eee salah”, gitu, he3. Kalo pun terkait dengan yang lain, misalkan cuaca lagi dingin, yaa dirasakan dan disadari aja, “waahaaa dingin nih, coba kalo aku sambil lebarin tangan… wooo mendingan, atau coba kalo dirapetin tangan… wooo mendingan”. Tapi kalo dingin sampe gak ketahan ya mending berhenti dulu kalo saya, lha wong balung tuwo. Termasuk pas macet, dan hal2 lain yang tidak menyenangkan. Naaa kalopun yang terjadi adalah hal yang menyenangkan ? Yaaa sama, kita rasakan secara penuh “waaahaa cuaca adem, jalan kelok2nya asik, pemandangan baguss, bau tanah basahnya enak ini”, terus diikuti dengan bersyukur “Alhamdulillah” 🙂 Salah satu tips lain adalah dengan memperhatikan salah satu aspek spesifik dari riding kita pada satu saat. Misal mesin saja, kaki2 saja, pemandangan saja, dst, kemudian beralih. Tapi rahasianya adalah, saat riding ya fokuskan sense dan pikiran kita ke berbagai aspek dari riding tsb, tanpa menghakimi, jangan mikirin tanggal tua, tagihan kartu kredit, putus pacar, dll. Pokoknya fokus ke riding aja 🙂 jangan pikirin yang lain selain riding lah prinsipnya, begitu mikirin yg lain, kemungkinan besar jadi gak hepi ridingnya, dan jadi bahaya.

10544384_10204472833561565_7050337577655203084_n

Sambil menjalankan ridefulness ini, kita biasanya jadi makin kenal dengan motor kita juga 🙂 dan biasanya jadi makin sayang. Dan lebih jauh, kita juga makin sayang sama lingkungan yang kita lewati, dan ujung2nya kita makin senang dengan riding 🙂

Jadi ya kuncinya itu aja, disadari, diterima, disyukuri, tanpa menyalahkan / menghakimi 🙂 Singkatnya ya dinikmati secara penuh ridingnya sambil pasrah dan ikhlas 🙂

10561833_10204407189440503_8560819096497638946_n

Simpel kan ?

(catatan : selain sharing, alasan lain saya bikin tulisan ini, supaya saya bisa majang foto2 narsis saya, hahaha)

TAMBAHAN 🙂

ada rekan saya, Kang Rendra Hertiadhi rider kawakan senior yang menambahkan dengan sesuatu yang sangat penting : DOA. Kata beliau, awali setiap kali mau riding dengan DOA dan BIG Smile, I couldn’t agree more 🙂

10421475_10204127551329725_7861814799380623442_n

Iklan

Bukan Sekedar cc Besar yang Diperlukan

Kenapa kita suka mengendarai motor ? Mungkin karena bisa nyelip2 di antara mobil2 sehingga membuat kita bisa sampai tujuan dengan cepat, mungkin karena lebih irit dan murah daripada mobil, mungkin supaya kelihatan cool dan muda karena tuntutan usia paruh baya 🙂 mungkin karena ada banyak tempat yang tidak dapat dicapai dengan kendaraan lain tapi dapat dicapai dengan motor. Yang jelas kalo saya lebih senang naik motorkarena engagement kita dengan lingkungan membuat perjalanan lebih terasa, kalo panas ya kepanasan, kalau dingin ya kedinginan, kalo hujan ya basah, suka dukanya lebih terasa. Dan selain itu naik motor lebih demanding, menuntut kita lebih involved dan konsentrasi, karena naik motor seringkali lebih ribet daripada naik mobil, membutuhkan keterlibatan tubuh, indera dan otak secara keseluruhan, dan ini menyenangkan bagi saya 🙂

Manusia dari sononya tidak pernah merasa puas dengan yang sudah dimiliki, selalu ingin memiliki yang lebih. Hal ini termasuk dengan motor, selalu pengen motor dengan unjuk kerja / performance yang lebih tinggi daripada yang sudah dimiliki saat ini (dan untuk beberapa kasus, bukan cuman itu, tapi juga lebih mewah). Dan (kalo dari pengalaman pribadi saya) unjuk kerja atau performance ini umumnya kita asosiasikan dengan spesifikasi cc (kapasitas mesin) yang lebih besar. Di benak kita, kita sering berkhayal betapa nikmatnya kalo naik motor dengan cc yang lebih besar, torsi yang lebih besar, horse power yang lebih besar, dan nantinya kita bisa lebih cepat, lebih nyaman, lebih cool dan lebih ganteng. Eiiitttss, tunggu dulu, setiap hal di dunia selalu datang satu paket, ada positifnya dan ada negatifnya. Memang motor cc besar lebih besar torsi dan tenaganya, tapi jangan lupa, sudah pasti lebih berat juga. Kan nggak lucu banget kalo mau keluar dari parkiran aja kita musti ngupah banyak orang untuk bantuin dorong, belum kalo jatuh. Belum lagi saat jalan, motor yang lebih berat menuntut skill yang lebih tinggi, momentumnya besar, apalagi waktu belok, motor berat terasa lebih mabal perasaan saya. Ngangkanin motor matic yang beratnya mungkin sekitar 75kg beda sama sekali dengan ngangkangin motor 250cc yang beratnya 180kg. Perlu learning curve lagi. Torsi dan tenaga besar pun perlu dijinakkan dengan skill ngurut throttle handle (handel gas) yang lebih halus. Kalo motor matic bisa asal bejek, kalo motor cc besar, salah2 bisa ngejungkel. Belum permainan kopling juga harus lebih halus. Udah gitu, cc besar juga identik dengan mesin yang lebih panas, ingat infrastructure jalan di Indonesia masih jelek, di kota besar hampir bisa dipastikan macet, naik motor cc besar di jalan macet itu sedih banget rasanya. Tahukah anda, (kalo cowok) biji yang konstan kepanasan dapat mengurangi kesuburan ? Motor cc besar juga identik dengan ukuran, ya lebih lebar ya lebih tinggi. Kalo tinggi badannya rata2 orang asia, 165cc (jangan protes, ini tinggi badan saya, jadi ya saya anggap saja ini tinggi badan rata2 orang asia) mau naik motor adventure yg cc besar sudah pasti harus jinjit, padahal umumnya diatas 200kg. Udah gitu…. last but not least harga belijuga pasti lebih mahal (belum harga spare part, service, dll), buat apa kita spend mahal2 untuk fitur yang sebetulnya belum dapat kita manfaatkan secara maksimal, malah justru membuat kita sengsara.

Jadi, instead of maksain beli motor dengan cc yang lebih besar, mungkin lebih pas kalo kita liat spek lain yang mungkin justru lebih bermanfaat. Kalo untuk kasus saya, misalkan melihat sektor kaki2. Gusti Alloh sayang sama saya, entah kenapa pas liat Keboijo (Kawasaki DtrackerX 250cc), saya langsung jatuh kesengsem, cinta pada pandangan pertama. Dan ternyata memang tidak salah. CC tidak terlalu besar, berat masih dalam batas kemampuan saya, power dan torsi tidak besar juga, jadi masih mencukupi untuk skill saya. Tapi yang saya cinta banget, ya itu tadi, sama sektor kaki2 alias suspensinya. Keboijo ini tidak pusing diajak melahap jalan kayak gimanapun, travel panjang dan empuk, dan ternyata untuk kebanyakan kasus, terutama yang melibatkan tipikal kondisi jalan di negara kita yang relatif jelek, dia bisa relatif tetap lincah dan cepat (cepat untuk ukuran saya lho ya). Naa, selain itu, hal lain yang perlu diperhatikan adalah penyesuaian dengan riding style kita, biasanya ini mengharuskan beli berbagai asesoris, kalo maksain beli cc besar, ya bisa jadi udah keburu habis duluan duitnya. Untuk kasus saya, ya beli lowering kit, bracket box dan boxnya, windshield, serta hal2 kecil lainnya.

Just my 2 cents lho ya ini, boleh protes, tapi mohon maaf kalo tidak ditanggepin 🙂

(catatan redaksi : sebagian alasan penulisan artikel ini, ya karena saya belum kuat dompetnya buat beli motor cc besar, hehehe)

IMG_4305

Gear Addiction Syndrome …. di Dunia Momotoran

Siapa bilang hanya perempuan yang hobby belanja. Cowok serem jenggotan berotot hobby motor yang banyak tattonya dan anggota club motor dimana-mana pun ternyata bisa hobby belanja dengan tingkat spending yang ternyata mencengangkan. Tiap kali ada motor baru yang keluar jadi galau. Tiap kali ada temen yang ganti ban jadi galau. Tiap kali ada temen yang pasang side box baru jadi galau. Tiap kali ada jaket atau apparel baru keluar jadi galau. Begitu tanggal muda, belanja macem-macem, tengah bulan mau ganti oli aja kagak ada dana, malah yang parah, buat beli bensin buat turing aja dompet udah kosong. Kalau anda juga mengalami hal seperti itu harap hati-hati, karena ada kemungkinan anda terjangkiti penyakit Gear Addiction Syndrome, sindrom ketagihan beli peralatan momotoran :).

Apakah semua orang yang suka belanja gear termasuk penderita syndrome ini ? Saya pikir belum tentu, ada beberapa yang memang beli karena perlu. Salah satu indikator yang bisa dipakai adalah berapa lama anda hepi dengan benda yang anda beli. Misalkan galau pengen beli jaket buat riding, terus nabung lama, dan akhirnya kebeli tu jaket riding. Pas di toko nyoba-nyoba dan akhirnya bayar, pasti masih cengengesan. Na pertanyaannya cengengesannya ini bertahan berapa lama ? Dipake beneran gak jaketnya abis itu. Kalo memang anda masih terus pake tuh jaket dan masih hepi dengan pembeliannya, bersyukurlah anda karena kemungkinan anda bukan penderita Gear Addiction Syndrome. Tapi kalau sampe rumah aja perasaaannya udah biasa aja, dingin, udah gak pengen pake jaket riding barunya, dan situasi ini terjadi tanpa alasan yang jelas. Na ini ada kemungkinan Gear Addiction Syndrome sudah nemplok di otak anda. Jadi otak hanya senang dengan sensasi euforia belanjanya aja, abis kebeli udah, selesai, pengen cari sensasi lagi dengan belanja yang lain. Yang lebih parah lagi kalau sampe rumah malah buka internet terus browsing-browsing lagi mau beli jaket mana lagi yang lain. Kalau misalkan ada alasan teknis yang membuat males pake, ya ini mungkin agak beda, tapi jangan dicari-cari ya alesannya, dan kalau memang ada alasan tertentu, ya kalau bisa balikin aja barangnya atau minimal tuker barang. Hal ini bukan hanya terjadi di apparel, tapi bisa juga urusan ban, kenalpot, piggy back, lampu HID, side box, dan puncaknya ya sampe motor… mampus kan ? Yang repot kalau sudah berkeluarga dan bisa mengganggu cash flow rumah tangga 🙂 berabe dah, bisa dikejar-kejar istri sambil bawa golok.

Bagaimana mengatasi masalah ini ? setau saya hal ini tidak bisa diobati dengan gampang. Lhaa namanya juga ketagihan. Buat yang merokok pasti tau bagaimana susahnya menghilangkan kebiasaan buruk yang sudah telanjur jadi ketagihan. Langkah pertama adalah ya menyadari dan mengakui bahwa kita itu penderita Gear Addiction Syndrome… Ya, saya punya masalah dengan Gear Addiction Syndrome, ketagihan belanja peralatan momotoran. Langkah berikutnya adalah tentukan anggaran dengan ketat, pisahkan uang buat momotoran dengan belanja keluarga. Abis dipisah ya yang buat belanja atau sekolah atau yang lain2 itu kalau perlu langsung diserahkan ke istri atau orang lain yang dapat dipercaya. Naa terus uang cowok ini udah bebas buat dibelanjakan seenak perut, gitu ? Wah ya jangan dulu… belum… sabar. Langkah berikutnya adalah coba pikirkan bener-bener mana benda-benda yang memang bener-bener perlu dan mana yang hanya sekedar pengen aja. Na di sinilah gunanya seorang atau beberapa temen, sukur-sukur yang kaya, coba anda promosikan benda-benda yang anda pengen itu ke mereka, pas mereka beli kan anda bisa cobain dulu, tanpa harus keluar uang. Kalo bagus, bilang ke mereka barangnya jelek, jadi bisa dijual murah dan anda bisa beli kondisi bekas tapi mulus, hehehehe, just kidding ya, makan tulang kawan ini namanya. Na urusan milah-milah mana yang bener2 perlu ini juga perlu latian. Salah satu cara yang cukup mudah adalah tunda pembelian. Uang ada, yakin butuh, barang ada, semangat membeli sudah menggebu2, naaa…. coba jangan langsung beli, tunda barang 3 hari atau malah seminggu. Udah ditunda, masih menggebu2 gak ? kalau udah nggak menggebu2 lagi, ya mungkin sebenarnya anda tidak butuh. Tapi jangan salahin saya kalo pas ditunda, keburu laku sama orang lain ya, hehehe. Terkait dengan kebutuhan dan hobby momotoran, ini bisa agak repot juga, karena genre momotoran ini juga banyak variannya, yang kalo diikutin semua, kali punya 20 motor juga nggak cukup. Misal, mau momotoran yang show bike atau function bike, sekedar tampil atau memang harus berfungsi tertentu. Tidak ada yang salah dengan show bike lho ya, secara saya dulu juga seneng show bike pas main motor tua. Cuman show bike itu mahal biasanya. Terus mau onroad atau offroad. Kalau on road juga variannya macem-macem. Na mau tidak mau ya harus milih lah. Kalau ada dananya mau semua ya silahkan, tapi kalau pun ada dananya, waktu biasanya yang tidak ada, jadi ya tetep aja harus milih. Atau ambil komprominya, misalkan mau onroad dan offroad, sport atau trail ? Beli dua-duanya gak ada dana atau gak ada waktu. Ya salah satu komprominya misalkan beli supermoto, onroad masih oke, offroad juga oke. Trik lain adalah beli gear yang memang fungsinya benar-benar berbeda. Misalkan beli jaket riding, ya jangan beli jaket riding yang buat touring terus. Nanti giliran harus jalan di dalam kota siang-siang, jadi alesan pengen beli jaket riding buat harian. Ya jaket riding harian beli satu, jaket riding buat touring beli satu aja. Kalau pengen lagi beli yang touring ? Ya tunggu sampe rusak, atau jual dulu yang ada 🙂 Abis itu kalau pake di sia-sia biar cepet rusak :). Naa, kemudian kalau udah kebeli bendanya, buat komitmen dengan benda yang dibeli itu, ya harus dipake sampe rusak atau minimal sekian tahun. Yang harus disadari adalah makna “tak kenal maka tak sayang”, jadi kalau anda makin kenal dengan motor anda misalkan, ya biasanya makin tau kebiasaanya, kapan dia bakal rewel dan lain sebagainya, dan ini membantu sekali kalau misalkan nanti dibawa turing jarak jauh… yak betul, memang jadi mirip pasangan hidup.

Oke, jadi singkatnya, coba identifikasi apakah anda penderita Gear Addiction Syndrome, cara singkatnya adalah dengan melihat apakah benda-benda yang dibeli cenderung tidak diperlukan ? Apabila ya, beberapa cara mengatasi :

  1. Sadari dan akui anda penderita Gear Addiction Syndrome
  2. Lakukan pemisahan anggaran dana yang tegas, dana momotoran dan dana buat hidup
  3. Lakukan perencanaan yang matang untuk spending, ambil kompromi atau beli yang fungsinya berbeda bener
  4. Tunda pembelanjaan, kalau sudah ditunda tetep mau, baru lakukan pembelanjaan
  5. Ambil komitmen dengan benda yang sudah dibeli, pake sampe rusak 🙂 Mirip kawin aja ya…. lha ya iya

Apakah langkah-langkah tersebut adalah satu2nya cara ? Menurut saya tidak, salah satu cara lain adalah anda jadi pedagang. Jadi kalau abis belanja terus gak suka ya tinggal dilempar ke lapak 🙂 Ide bagus kan ? Ya tapi kalo penderita Gear Addiction Syndrome, biasanya kalo jadi pedagang ya rugi melulu.

Yang jelas kalau saya ada kecurigaan termasuk yang terkena syndrome ini, cuman mungkin karena dana terbatas ya jadi ya terbatas spendingnya, dan masih berjuang berusaha mengatasi 🙂

Selamat berjuang.

Ooo iya, ini OOT, tapi biar sekedar ada ilustrasi, Ki Woles ikutan nampang ya 🙂

IMG_6209 cropped

Tips Sederhana dalam Memotret Adventure dengan Motor

Manusia itu secara umum suka pamer, oleh sebab itu para ahli perilaku sering menyebut manusia sebagai Homo Pamerus, paling tidak itu yang terjadi dalam 10 tahun terakhir. Hal ini yang menyebabkan berbagai social media seperti Facebook, Instagram, Path, Foursquare menjamur dengan pertumbuhan yang cepat. Setiap individu pengen exist dengan menunjukkan “ini lhoo aku barusan makan …. di sini … bareng si …. ” dan lain sebagainya. Naaa fenomena ini pun sebenarnya juga terjadi di kalangan hobbyst motor yang suka blusukan, atau paling tidak yang ngakunya suka blusukan, padahal ya entah blusukan bener apa nggak ya masih belum tentu. Salah satu media untuk sharing (baca : pamer) yang paling efektif ya foto. Kita bisa aja crita betapa indahnya pemandangan yang dilihat, betapa menantangnya jalan yang ditempuh, dan betapa serunya perjalanan sampe mulut berbusa-busa tapi lawan bicara cuman jawab “Ah mosok…. no picture = hoax”, jadi buat seorang Homo Pamerus, foto itu penting !

Wis… supaya tidak berpanjang-panjang, coba kita perhatikan foto sebagai berikut

SONY DSC

Menurut anda foto tersebut bagus apa jelek? Kalau pun tidak bagus, menurut saya sih ya tidak jelek lah. Tapi kesan atau informasi apa yang anda dapat ? Ooo pemandangan yang indah, terus ada perkebunan dengan latar belakang gunung, yah kurang lebih begitu lah.

Na, sekarang coba perhatikan foto sebagai berikut

SONY DSC

Pertanyaan saya, foto mana yang lebih bernuansa adventure ? 🙂 Foto mana yang lebih menunjukkan aktivitas adventure dengan motor. Kalau anda mau crita ke temen / pacar / istri / anak cucu, “Dulu kakek pernah blusukan di daerah Bandung timur, pake motor, jalannya nuanjak, pemandangannya bagus banget”, foto mana yang anda pilih ? Foto pertama atau kedua ? Kalau saya ya foto yang kedua. Dan kalau sekarang saya bertanya, apa beda kedua foto di atas ? ya sudah sangat obvious, foto kedua memasukkan elemen motor dalam frame foto. Hal ini sepertinya sederhana, tapi ini menjawab pertanyaan bahwa kita bisa sampe ke lokasi tesebut dengan motor, bukan dengan kendaraan yang lain, jadi ya itu, ini foto adventure dengan motor ! Na tapi elemen ini jangan menempati porsi yang terlalu besar juga, maksimum banget sepertiga frame, ini pendapat saya pribadi loo ya, kalo lebih dari itu nanti takut dikira iklan motor. Kecuali yang mau dipamerin ya motornya 🙂 Saya sering melihat foto-foto adventure temen-temen yang berisi gambar pemandangan luar biasa, namun jadi sekedar foto landscape yang bagus, bukan foto motorcycle adventure yang bagus.

Menurut saya foto adventure motorcycle yang lebih informatif ya yang mengandung elemen :

  1. dimana
  2. motor
  3. pelaku
  4. kapan
  5. aktifitas lain apa

Sebagai foto adventure dengan motor, minimal komponen 1 dan 2 harus ada, tekniknya ya memasukkan dua elemen tersebut dalam foto. Pelaku bagaimana ? Sekarang kalau saya bertanya, siapa pelaku di foto kedua ? Ya kita sudah tau karena sudut pengambilan adalah first person view, jadi kesan yang didapat dari foto tersebut adalah solo riding ke lokasi tersebut. Tapi apabila diinginkan bisa aja anda pasang tripod, dan foto pemandangan diambil dengan POI (point of interest di foreground) motor dan kita. Namun saran saya sebaiknya pandangan kita jangan melotot ke kamera sambil senyum, kurang cool, ini pendapat saya loo ya. Elemen no 4 (elemen “kapan”) bisa diceritakan dengan mengambil gambar di pagi hari atau sore hari. Misalkan di pagi hari anda bisa mengeksplorasi memasukkan unsur kabut dalam foto anda, jadi tidak usah repot-repot crita, orang yang liat sudah tau fotonya diambil pagi hari.

IMG_5345

Cara lain ambil foto di sore hari dengan nuansa cahaya keemasan, pemirsa biasanya langsung tau kalau foto diambil sore hari. Elemen terakhir (aktifitas tambahan), bisa didapat dengan memasukkan elemen lain ke dalam foto yang terkait dengan aktifitas yang dilakukan, misalkan tenda. Hanya memang tidak selalu mudah memasukkan semua elemen tersebut : pemandangan, motor, orang, tenda dan diambil di saat yang tepat (misalkan saat sunset / sunrise).

Kalau mau motret indoor atau tempat yang tidak mungkin memasukkan elemen motor bagaimana ? Salah satu trik yang saya pake adalah memasukkan riding accessories, dan yang paling mudah ya helm, makanya pilih helm yang penampilannya lumayan 🙂

IMG_2184

Tambahan terakhir, tentang komposisi, sebaiknya hindari penempatan POI (motor, orang, tenda, helm) di tengah bidang gambar, tapi di sepertiga bidang horizontal atau sepertiga bidang vertical atau di titik temu sepertiga vertical dan horizontal, singkatnya ikuti aturan rule of third (http://digital-photography-school.com/rule-of-thirds/).

Contoh penempatan POI (motor) di pertemuan sepertiga horizontal bawah dan sepertiga vertical kanan :

IMG_5147 small

Contoh penempatan POI di sepertiga horizontal bawah

IMG_5160

Tips terakhir yg paling penting : jalan2 sesering mungkin dan motret sebanyak2nya 🙂

Sip, selamat pamer dengan foto-foto adventure anda 🙂

Top Box Motor Permanen… Why Not ?

Saya termasuk orang yang tidak suka kalau ada beban terlalu banyak yang nempel di badan saat riding motor, secara tubuh saya sendiri sudah tebal dan berat, penambahan beban jadi menyebalkan sekali. Konsekuensinya ya harus bawa box, dan pilihan yang paling praktisnya ya top box, karena kalo pake side box terlalu repot untuk dipakai harian di kota.

Cukup banyak merek top box yang beredar di Indonesia, namun secara umum hampir semua menerapkan sistem bongkar pasang dengan kunci quick release. Saya sendiri sudah pernah memasang model Givi E20 dengan sistem bracket Monolock.

IMG_4689

Namun ada beberapa hal yang membuat saya galau dengan konfigurasi tersebut. Yang pertama, kok tinggi banget ya, ukuran box Givi E20 tersebut terlalu besar untuk keperluan saya sehari-hari. Bukannya saya bilang Givi E20 jelek lho ya… cuman buat saya terlalu besar dan tinggi (takut ditimpukin penggemar fanatik E20). Posisi yang tinggi ini membuat manuver terasa kurang lincah, karena (perasaan) titik berat jadi naik. Dan masalah lain yang lebih penting, kok penampilannya jelek ya, jadi mbedhudug, ini masalah besar bagi saya. Alasan kedua adalah, saya sebenarnya tidak perlu sistem bongkar pasangnya, karena ya selalu perlu box tersebut nempel di motor.

Akhirnya timbul ide untuk memasang box yang ukurannya pas dengan kebutuhan saya dan ditempel permanen ke motor. Pilihan box jatuh ke versi abal-abal dari Pelican Brief bermerk Krisbow yang saya dapatkan di Ace Hardware, ukurannya pas dengan tas kerja saya yang berisi satu komputer laptop tua 14 inch. Pelican abal-abal ini selain harganya tidak terlalu mahal (sekitar 600rb an) dia juga kedap air karena ada seal karetnya, jadi cukup aman kalaupun pas lagi hujan. Sampe rumah, saya ukur dengan dudukan yang ada dan langsung bor dan saya baut permanen ke dudukan (saya pake baut dudukan givi, tapi ya baut apapun dengan ring yang cukup lebar tidak masalah, ring lebar penting karena untuk membagi beban). Berikut penampakannya :

IMG_2200

Dalam kondisi tertutup

IMG_2198

dalam kondisi terbuka

IMG_2199

pas diisi dengan tas kerja saya

IMG_2204

Untuk faktor keamanan bisa ditambahkan gembok bila perlu

IMG_2201

Penampilan dengan Ki Keboijo secara keseluruhan

IMG_2197

Kentungannya adalah :

  • ukuran tidak terlalu besar
  • titik berat lebih rendah, lebih tidak mengganggu manuver
  • tahan air
  • terlihat keren dan beda (menurut saya lho ya ini, mau protes boleh)
  • murah, ya murah box nya dan tidak perlu bracket aneh-aneh
  • keren… ooo udah ya
  • murah… halah udah juga ya
  • Lebih kuat buat di bawa jalan jelek, cocok buat yang suka adventure riding jauh

Khusus untuk poin terakhir itu cukup penting buat motor kayak Ki Keboijo, karena sering diajak klinong-klinong menjauhi aspal. Na ini saya jadi inget rekan saya Mas Nova Sisprasojo (https://www.facebook.com/novaholicare), adventure rider yang jagoan bikin pelem, kalo perlu company profile dan lain, ke beliau aja, dijamin cakep, bilangin aja tau dari saya ya…sapa tau saya bisa dapet pemeran figuran di pelem2 beliau nanti (pemeran figuran jadi reco gupolo). Beliau pake E20 yang sempat mencelat waktu adventure riding situs batu jaya, ini link videonya http://www.youtube.com/watch?v=a6EoMkUHies Sorry ya Mas Nova, jadi kebawa-bawa.

Kalo ada yang males pake Pelican abal-abal, boleh juga pake Pelican asli, cuman harganya muahal, dan saya tidak tahu apa mudah dibor atau tidak. Kalau Pelican abal-abal itu cukup mudah dibor. Berikut penampakan Pelican Brief asli di sebelah Givi TRK33 sebagai perbandingan (ukuran beragam, bukan hanya satu ukuran ini)

IMG_2203

Sip, gitu deh… jadi top box pelican abal-abal yang dipasang permanen ini bisa cukup mengobati kegalauan terkait dengan barang bawaan sehari-hari :).

IMG_5734

Ooo iya, rekan seperjuangan dan senior saya PakDe Yusrilla Kerloza (https://www.facebook.com/kerlooza) juga memakai konfigurasi yang sama di tunggangannya Kanjeng Nyai Merry, hanya ukuran box lebih besar, dan sekarang sedang diuji coba boncengan dengan istri beliau dalam ekspedisi ke pulau sumatra (cek blog perjalanan beliau di http://swarnadwipaexp.net/). Kita tunggu apa memang konfigurasi top box permanen ini memang kuat seperti yang saya duga 🙂 Nyangoni slamet ya PakDe !

Berikut penampilan Kanjeng Nyai Merry dengan top box permanen

10154311_10202541526572532_117923770_nInfo tambahan : karena ada yang tanya, gimana kalo Pelican abal-abal ini dijadikan sidebox, na ini kebetulan ada rekan saya pakar carrier di motor adventure yang pasang juga. Malah pake custom bracket yang bisa quick release, pake kunci, ganteng lah (bracket motornya aja ganteng, apalagi orangnya). Namanya kang Ferry Kana (https://www.facebook.com/ferry.kana), ini penampakan motornya :

998104_10151624724180885_868253070_n

 

Bagaimana Membuat Jok Motor Trail / Dual Sport Menjadi Lebih Nyaman ?

Motor dual sport atau mungkin sering dikenal motor trail atau ada juga yang menyebut enduro (wah beda ini…. ya boleh lah kalo mau protes, saya sih liatnya secara umum sama) merupakan salah satu pilihan yang menarik untuk dipakai dalam adventure riding yang melibatkan track on road dan off road. Peredam kejut dengan jarak main yang panjang dan ground clearance yang tinggi, dikombinasikan dengan ukuran dan profil ban yang sesuai (http://wp.me/p4xDdm-w), membuat motor ini sangat weenaak untuk dibawa klinong-klinong di tempat yang gak jelas ada aspalnya atau tidak. Ini juga alasan kenapa Ki Keboijo merupakan motor jenis ini. Tapi apakah tidak ada kelemahannya ? Menurut saya ada dua kelemahan motor jenis ini, paling tidak yang saya temui di Keboijo, yang pertama kapasitas bahan bakar yang kecil (wah kalo bahas ini kok jadi pengen Kawasaki KLR ya…. Oh KLR, kapan bisa beli KLR ya), yang dapat diatasi dengan membawa tangki cadangan (nanti dibahas di postingan lain deh). Masalah kedua adalah bentuk jok yang bikin rider berpantat gede kayak saya jadi menderita, baru duduk sejam aja udah terasa panas. Na masalah kedua ini yang menjadi topik utama dalam postingan kali ini.

Saya sempat galau cukup lama gara-gara masalah ini. Pas lagi browsing-browsing di internet sempat kenalan dengan Mas Yudistiro Kusno (https://www.facebook.com/yudistiro.kusno), yang ternyata rider super kondang karena pernah ikutan Rally Paris Dakar. Beliau juga punya KLX 250, dan joknya sudah diganti dengan Sargent Seat. Beliau rekomen jok itu, wuih ya saya jelas ngiler, sayang harganya kok tidak terjangkau dompet saya, rider dhuafa ini…

Nih penampakan Sargent Seat yang ganteng menawan tersebut buat yang penasaran.

ws_610_main

Search aja di Internet buat spek nya, material dan bentuk emang cakep banget. Kalo ada yang minat, kontak Mas Yudistiro aja, bilangin tau dari saya (nama panggung saya Widyawardana atau Doni, sebutin ya, sapa tau dapat diskon, dan saya kecipratan komisinya).

Sempat kepikiran mau menebalkan jok, tapi sayang sama jok ori nya kalau kulitnya dikupas. Nyari jok abal-abal buat KLX 250 / DTrackerX 250 gak nemu. Beli yang ori, mahal banget, kalo gak salah 1.8jt, itu pun pesen lama, keburu lumutan. Keliling-keliling ke tukang jok dan liat contoh KLX150 yang ditebelin joknya tapi kok jadi gak selera pas liat, kayak operasi plastik suntik botox tapi gagal ….hooekkk, gak selera lah.

Akhirnya ketemu satu alternatif solusi. Di salah satu forum adventure riding (http://www.thumpertalk.com/topic/567688-where-can-i-order-sweetcheeks-from/), di situ disebut satu produk untuk mengangkut botol minuman atau bensin cadangan, dan sekaligus melebarkan penampang jok motor. Penampakannya sebagai berikut

sweet-cheeks1

Fakta yang menarik dari berbagai informasi yang saya dapat di internet, ternyata faktor kenyamanan lebih ditentukan oleh lebar jok dan bukan melulu oleh tebal jok, sehingga produk seperti di atas itu, sebut saja gondal-gandul, cukup efektif untuk mengurangi gejala pantat panas saat riding lama. Buat yang tertarik beli aslinya ada di sini http://cycle-analyst.com/sweetcheeks, tapi ya lumayan harga dan ongkirnya. Dan yang menarik lagi ternyata gondal-gandul cukup sederhana untuk dibuat oleh kebanyakan tukang lapis jok pada umumnya. Akhirnya saya meluncur mencari ke tukang jok sambil membawa gambar contoh gondal-gandul tersebut (saya ke tukang jok di jl PH. Mustafa, Bandung, dekat perempatan yang ke RS Santo Yusuf, nama tukang jok nya Mas Purnomo). Saya tidak banyak cingcong, saya serahkan saja tukang jok untuk berkreasi . Akhirnya jadilah gondal-gandulnya sebagai berikut, saya pake ukuran botol trangia untuk membawa bensin, dan ternyata pas juga untuk botol Pocari Sweat ukuran tanggung.

IMG_6291

Botolnya sendiri ditahan pake prepet / velcro, jadi aman, sebetulnya karena ukurannya ngepas tidak perlu khawatir lepas walau tidak pake velcro.

IMG_6292

Pada saat dipasang ditambah tali pengaman (webbing tas), yang dilengkapi dengan buckle (ooo iya, di tukang jok gak ada webbing dan
tas, jadi bawa sendiri ya).

IMG_6294

Kalau tidak dipakai bisa dilipat dengan ukuran yang tidak terlalu besar.

IMG_6289

Lumayan lah, untuk riding lama, bisa mengurangi gejala pantat panas, dan yang juga penting, menambah “cool factor” dari Keboijo,
kesannya mau kemana gitu. Ooo iya, pas postingan ini ditulis, saya lagi bikin juga buat botol aqua yang gede, untuk keperluan kalo mau
camping pake motor.

IMG_5317

Ooo iya, kalo masih tetep cepet panas pantatnya, bisa dicoba satu tips lagi, jangan pake celana dalam pas riding lama, serius ini.

 

 

Alokasi Daya Listrik di Motor (Electrical Power Budgeting)

Vespa-mods_795796c

“Lebih Besar Pasak daripada Tiang”, hampir semua orang Indonesia yang lulus wajib belajar 6 tahun mengerti arti peribahasa tersebut. Namun dalam hal “momotoran” (hobby motor), seringkali kita lupa tentang makna peribahasa tersebut. Maksud saya bukan beli motor mahal, terus gak bisa bayar cicilannya ya, walaupun ini juga sebaiknya dihindari, lha wong mau seneng kok malah mumet. Yang saya maksud adalah dalam hal kelistrikan. Buktinya banyak yang ngaku akinya pada tekor.

Kita sering kali lupa pada saat menempelkan segala macem asesoris yang memerlukan listrik, mulai yang penting seperti misalkan untuk adventure rider biasanya adalah spot light atau fog light tambahan, atau bisa juga yang tidak penting seperti sirine dan strobo (saya pribadi kurang setuju dengan pemasangan asesoris ini di motor sipil). Hal ini juga terjadi pada saya, secara saya juga suka blusukan biar keliatan gagah di mata anak dan istri saya, seorang adventure rider wannabe paruh baya puber kedua. Dengan impulsifnya saya beli Hella Micro DE dengan bohlam halogen biasa, soalnya kalo yang HID mahal Bro (1.4jt vs 5.4jt Bro). Penampakannya seperti ini :

dsc08581h

Dengan harapan Ki Keboijo penampilannya bakal bisa segagah ini

H2

Setelah beli dari seller di kaskus, sambil nunggu barang datang mulai deh browsing-browsing tentang pro and cons dari pemasangan lampu tambahan ini. Modar deh, potensi masalah mulai keliatan, Hella Micro DE tersebut satu lampu 55 watt, 2 lampu ya total 110 watt, kira-kira kelistrikan Keboijo mencukupi gak ya ? Hal ini menjadi penting lha soalnya pertama : Keboijo tidak dilengkapi dengan kickstarter, jadi kalo tekor ya wis mampus. Didorong ? Bukan alternatif karena sistem suplai bahan bakarnya injeksi, harus mencukupi daya di aki nya (na ini masalah kedua), kalo gak ada aki ya gak ada bensin disemprot. Saya juga sempat ngobrol dengan rekan momotoran, Kang Ferry Kana (https://www.facebook.com/ferry.kana) dan PakDe Yusrilla (https://www.facebook.com/kerlooza), secara beliau-beliau tersebut juga memasang lampu tambahan, dan menginformasikan bahwa memang aki sering jadi tekor, hanya di motor beliau berdua ada indikator low batt mirip smart phone dan ada kickstarter, jadi masih berani pake lampu tambahan di kondisi tertentu asal indikator low batt dipelototin.

Untuk kasus saya dengan Keboijo ? Ya mau tidak mau saya harus melakukan budgeting daya listrik kalau tidak mau sengsara di jalan gara-gara tekor aki. Menurut saya ada dua cara untuk melakukan hal ini.

Cara Pertama

Cara pertama ini adalah dengan berhitung. Listrik di motor kan dihasilkan oleh alternator, jadi buka manual book motor anda dan cari informasi tentang daya listrik yang dihasilkan.

manual

Misalkan kalo untuk motor saya, outputnya adalah 17.4 ampere (arus) 14 volt (tegangan), jadi dayanya adalah (daya = arus x tegangan) 17.4 x 14 = 244 watt. Tentunya ini tidak seratus persen, karena ada kerugian saat merubah dari listrik AC (bolak balik) menjadi DC (searah), jadi untuk amannya dikalikan lagi dengan faktor 80% atau 90%, jadi untuk Keboijo ya sekitar 195. Na ini listrik yang dihasilkan, yang nanti akan dipakai untuk kebutuhan kehidupan motor (ECU, injeksi, lampu, busi, dll) dan melakukan charging aki. Jadi langkah berikutnya adalah melakukan perhitungan seluruh kebutuhan kehidupan motor tersebut, na jadi harus cari-cari info lagi, misal lampunya berapa watt, ECU berapa watt, dan seterusnya. Na, kalo ditotal, semua kebutuhan tersebut harus lebih kecil dari daya yang dihasilkan dan menyisakan untuk amannya perkiraan saya sekitar 20 watt. Jadi untuk kasus Keboijo ya maksimum kebutuhannya ya sekitar 175 watt. Masalahnya, tidak semua informasi kebutuhan daya listrik ini tersedia di manual, jadi ya harus cari di internet atau tanya-tanya. Repot ya ? lha iya, mau bener emang repot. Lha kalo gak mau repot ? Ya pake cara kedua.

Cara Kedua

Cara kedua ini prinsipnya adalah dengan pengukuran, bukan berhitung. Kalau di motor sudah ada colokan listrik yang untuk menyalakan rokok (colokan listrik yang langsung terhubung ke aki, bukan yang dengan regulator), maka kita tinggal beli volt meter yang sesuai seperti berikut (saya beli di kaskus).

Supply-of-automotive-supplies-wholesale-mini-car-cigarette-lighter-voltmeter-DC12-24V-voltage-font-b-safety

Na kalau tidak ada ? Ya bisa juga diukur langsung tegangan di kutub aki dengan multimeter (AVO meter). Atau kalau motor sudah dilengkapi indikator tegangan aki ya malah lebih bagus lagi, tinggal dipelototin. Terus langkah-langkahnya gimana ? 1) Dalam kondisi mesin mati coba dilihat berapa nilai tegangannya ? Kalau masih di atas 12 ya aman, atau kurang-kurang dikit kalo sama temen ya boleh lah, tapi jangan kurang dari 11. Kalo kurang dari 11 ya berarti akinya udah jelek atau alternator pengisian perlu diservis, karena mungkin pengisian aki sebelumnya jelek. 2) Nyalakan mesin, tapi semua lampu dan asesoris dimatikan. Na seharusnya angka yang keluar 13 atau lebih, kalau kurang, berarti alternator pengisian masalah, atau aki udah butut jadi rakus banget ngambil arusnya. Mending periksa ke bengkel deh. 3) Coba nyalakan semua lampu dan asesoris, kalau indikator masih 12 lebih (kalo saya pake patokan 12.5 plus minus) berarti aman, karena pengisian aki masih terjadi. Kalo kurang dari 12, coba cek satu-satu, asesoris mana yang bikin paling tekor, na yang bikin tekor itu yang harus diganti atau diakalin, atau kalo gak mau pusing ya buang aja ke selokan depan rumah. 4) Kalau memang semua sudah OK, volt meter bisa dilepas, tidak perlu nempel di motor terus, kecuali menurut anda itu bisa membuat motor makin keren.

IMG_6279Walhasil, setelah melakukan ini, akhirnya Hella Micro DE tidak jadi nempel di Keboijo, karena daya yang diambil kegedean (total 110 watt). Lha kenapa gak pake bohlam LED ? Sudah dicoba 3 jenis bohlam LED ukuran H3, mulai dari yang gak jelas jenisnya, sampe CREE sampe COB (saya beli bohlam-bohlam H3 ini di aliexpress.com), tapi tidak terang semua, sampe malah jadi mesum saya perasaannya, soalnya cuman temaram. Lha terus gimana ? Untung akhirnya ketemuan dengan Kang Mario Iroth (https://www.facebook.com/mario.iroth), adventure rider kondang dari wheel story pas kopdar bareng rekan-rekan Nusantaride di Bandung. Beliau rekomen untuk pake LED Owl Cree dari Weekend LED (https://www.facebook.com/weekendled.custom). Beli deh saya, dan puas, jadi Keboijo gak kalah gagah lah sama BMW GS yang ada Hella Micro DE nya (kalo ada kesempatan nanti direview deh LED nya). Jadi berkurang dikit lah kegalauan gara-gara urusan penerangan.

IMG_6224Saya baru kepikiran, lha kemungkinan kalo yang nemplok di BMW GS itu ya Hella Micro DE yang HID ya, yang daya nya lebih rendah tapi muahal :)… Ya wis lah.