Bukan Sekedar cc Besar yang Diperlukan

Kenapa kita suka mengendarai motor ? Mungkin karena bisa nyelip2 di antara mobil2 sehingga membuat kita bisa sampai tujuan dengan cepat, mungkin karena lebih irit dan murah daripada mobil, mungkin supaya kelihatan cool dan muda karena tuntutan usia paruh baya 🙂 mungkin karena ada banyak tempat yang tidak dapat dicapai dengan kendaraan lain tapi dapat dicapai dengan motor. Yang jelas kalo saya lebih senang naik motorkarena engagement kita dengan lingkungan membuat perjalanan lebih terasa, kalo panas ya kepanasan, kalau dingin ya kedinginan, kalo hujan ya basah, suka dukanya lebih terasa. Dan selain itu naik motor lebih demanding, menuntut kita lebih involved dan konsentrasi, karena naik motor seringkali lebih ribet daripada naik mobil, membutuhkan keterlibatan tubuh, indera dan otak secara keseluruhan, dan ini menyenangkan bagi saya 🙂

Manusia dari sononya tidak pernah merasa puas dengan yang sudah dimiliki, selalu ingin memiliki yang lebih. Hal ini termasuk dengan motor, selalu pengen motor dengan unjuk kerja / performance yang lebih tinggi daripada yang sudah dimiliki saat ini (dan untuk beberapa kasus, bukan cuman itu, tapi juga lebih mewah). Dan (kalo dari pengalaman pribadi saya) unjuk kerja atau performance ini umumnya kita asosiasikan dengan spesifikasi cc (kapasitas mesin) yang lebih besar. Di benak kita, kita sering berkhayal betapa nikmatnya kalo naik motor dengan cc yang lebih besar, torsi yang lebih besar, horse power yang lebih besar, dan nantinya kita bisa lebih cepat, lebih nyaman, lebih cool dan lebih ganteng. Eiiitttss, tunggu dulu, setiap hal di dunia selalu datang satu paket, ada positifnya dan ada negatifnya. Memang motor cc besar lebih besar torsi dan tenaganya, tapi jangan lupa, sudah pasti lebih berat juga. Kan nggak lucu banget kalo mau keluar dari parkiran aja kita musti ngupah banyak orang untuk bantuin dorong, belum kalo jatuh. Belum lagi saat jalan, motor yang lebih berat menuntut skill yang lebih tinggi, momentumnya besar, apalagi waktu belok, motor berat terasa lebih mabal perasaan saya. Ngangkanin motor matic yang beratnya mungkin sekitar 75kg beda sama sekali dengan ngangkangin motor 250cc yang beratnya 180kg. Perlu learning curve lagi. Torsi dan tenaga besar pun perlu dijinakkan dengan skill ngurut throttle handle (handel gas) yang lebih halus. Kalo motor matic bisa asal bejek, kalo motor cc besar, salah2 bisa ngejungkel. Belum permainan kopling juga harus lebih halus. Udah gitu, cc besar juga identik dengan mesin yang lebih panas, ingat infrastructure jalan di Indonesia masih jelek, di kota besar hampir bisa dipastikan macet, naik motor cc besar di jalan macet itu sedih banget rasanya. Tahukah anda, (kalo cowok) biji yang konstan kepanasan dapat mengurangi kesuburan ? Motor cc besar juga identik dengan ukuran, ya lebih lebar ya lebih tinggi. Kalo tinggi badannya rata2 orang asia, 165cc (jangan protes, ini tinggi badan saya, jadi ya saya anggap saja ini tinggi badan rata2 orang asia) mau naik motor adventure yg cc besar sudah pasti harus jinjit, padahal umumnya diatas 200kg. Udah gitu…. last but not least harga belijuga pasti lebih mahal (belum harga spare part, service, dll), buat apa kita spend mahal2 untuk fitur yang sebetulnya belum dapat kita manfaatkan secara maksimal, malah justru membuat kita sengsara.

Jadi, instead of maksain beli motor dengan cc yang lebih besar, mungkin lebih pas kalo kita liat spek lain yang mungkin justru lebih bermanfaat. Kalo untuk kasus saya, misalkan melihat sektor kaki2. Gusti Alloh sayang sama saya, entah kenapa pas liat Keboijo (Kawasaki DtrackerX 250cc), saya langsung jatuh kesengsem, cinta pada pandangan pertama. Dan ternyata memang tidak salah. CC tidak terlalu besar, berat masih dalam batas kemampuan saya, power dan torsi tidak besar juga, jadi masih mencukupi untuk skill saya. Tapi yang saya cinta banget, ya itu tadi, sama sektor kaki2 alias suspensinya. Keboijo ini tidak pusing diajak melahap jalan kayak gimanapun, travel panjang dan empuk, dan ternyata untuk kebanyakan kasus, terutama yang melibatkan tipikal kondisi jalan di negara kita yang relatif jelek, dia bisa relatif tetap lincah dan cepat (cepat untuk ukuran saya lho ya). Naa, selain itu, hal lain yang perlu diperhatikan adalah penyesuaian dengan riding style kita, biasanya ini mengharuskan beli berbagai asesoris, kalo maksain beli cc besar, ya bisa jadi udah keburu habis duluan duitnya. Untuk kasus saya, ya beli lowering kit, bracket box dan boxnya, windshield, serta hal2 kecil lainnya.

Just my 2 cents lho ya ini, boleh protes, tapi mohon maaf kalo tidak ditanggepin 🙂

(catatan redaksi : sebagian alasan penulisan artikel ini, ya karena saya belum kuat dompetnya buat beli motor cc besar, hehehe)

IMG_4305

23 tanggapan untuk “Bukan Sekedar cc Besar yang Diperlukan”

    1. Saya dari Sportster 900cc dan BSA 650cc balik ke 250cc an Kang. Tapi yang cc besar itu tahun 1957 (sportster), 1964 (sportster) dan 1941 (BSA), hihihi. CC besarnya tuwek2

  1. D-Tracker 250, mantapz banget itu kang… cocok untuk segala medan
    tapi cc kecil juga gak kalah, ya cuma kalah di asap aja(2-Tak)
    sebenernya menurut saya sendiri idak perlu cc besar, asal torsi dan power mumpuni, ya seperti KLX/D-Track ini, kalo saya pribadi ya F1ZR modif jadi KLX, ato sekalian Ninja 150SS (2-tak)

  2. bilang aja udah mulai masuk generasi embah embah,hohoho
    terimakasih sudah mengingatkan mimpi saya buat minang kebo ireng atau kebo ijo yg lainnya *salim embah..ehhh

  3. Setuju dgn tulisan om Rudergalau.

    Sy hari2 malah pake kawasaki ksr 110cc buat ngantor… hiahahahahaha…
    Jalan jelek, hajar!
    Banjir, hajar!
    Polisi tidur, lindes!

    Dan bener, biasa pake cc besar pas pake cc kecil jd uwenak handlingnya… meski cc besar kdg2 tetep ngangenin sensasinya…

  4. Kekurangan motor trail utk jarak jauh cuman satu: jok yg kecil bikin bokong puwanaass klo klamaan di motor.. hehehehe….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s