Arsip Kategori: Setting Motor

Top Box Motor Permanen… Why Not ?

Saya termasuk orang yang tidak suka kalau ada beban terlalu banyak yang nempel di badan saat riding motor, secara tubuh saya sendiri sudah tebal dan berat, penambahan beban jadi menyebalkan sekali. Konsekuensinya ya harus bawa box, dan pilihan yang paling praktisnya ya top box, karena kalo pake side box terlalu repot untuk dipakai harian di kota.

Cukup banyak merek top box yang beredar di Indonesia, namun secara umum hampir semua menerapkan sistem bongkar pasang dengan kunci quick release. Saya sendiri sudah pernah memasang model Givi E20 dengan sistem bracket Monolock.

IMG_4689

Namun ada beberapa hal yang membuat saya galau dengan konfigurasi tersebut. Yang pertama, kok tinggi banget ya, ukuran box Givi E20 tersebut terlalu besar untuk keperluan saya sehari-hari. Bukannya saya bilang Givi E20 jelek lho ya… cuman buat saya terlalu besar dan tinggi (takut ditimpukin penggemar fanatik E20). Posisi yang tinggi ini membuat manuver terasa kurang lincah, karena (perasaan) titik berat jadi naik. Dan masalah lain yang lebih penting, kok penampilannya jelek ya, jadi mbedhudug, ini masalah besar bagi saya. Alasan kedua adalah, saya sebenarnya tidak perlu sistem bongkar pasangnya, karena ya selalu perlu box tersebut nempel di motor.

Akhirnya timbul ide untuk memasang box yang ukurannya pas dengan kebutuhan saya dan ditempel permanen ke motor. Pilihan box jatuh ke versi abal-abal dari Pelican Brief bermerk Krisbow yang saya dapatkan di Ace Hardware, ukurannya pas dengan tas kerja saya yang berisi satu komputer laptop tua 14 inch. Pelican abal-abal ini selain harganya tidak terlalu mahal (sekitar 600rb an) dia juga kedap air karena ada seal karetnya, jadi cukup aman kalaupun pas lagi hujan. Sampe rumah, saya ukur dengan dudukan yang ada dan langsung bor dan saya baut permanen ke dudukan (saya pake baut dudukan givi, tapi ya baut apapun dengan ring yang cukup lebar tidak masalah, ring lebar penting karena untuk membagi beban). Berikut penampakannya :

IMG_2200

Dalam kondisi tertutup

IMG_2198

dalam kondisi terbuka

IMG_2199

pas diisi dengan tas kerja saya

IMG_2204

Untuk faktor keamanan bisa ditambahkan gembok bila perlu

IMG_2201

Penampilan dengan Ki Keboijo secara keseluruhan

IMG_2197

Kentungannya adalah :

  • ukuran tidak terlalu besar
  • titik berat lebih rendah, lebih tidak mengganggu manuver
  • tahan air
  • terlihat keren dan beda (menurut saya lho ya ini, mau protes boleh)
  • murah, ya murah box nya dan tidak perlu bracket aneh-aneh
  • keren… ooo udah ya
  • murah… halah udah juga ya
  • Lebih kuat buat di bawa jalan jelek, cocok buat yang suka adventure riding jauh

Khusus untuk poin terakhir itu cukup penting buat motor kayak Ki Keboijo, karena sering diajak klinong-klinong menjauhi aspal. Na ini saya jadi inget rekan saya Mas Nova Sisprasojo (https://www.facebook.com/novaholicare), adventure rider yang jagoan bikin pelem, kalo perlu company profile dan lain, ke beliau aja, dijamin cakep, bilangin aja tau dari saya ya…sapa tau saya bisa dapet pemeran figuran di pelem2 beliau nanti (pemeran figuran jadi reco gupolo). Beliau pake E20 yang sempat mencelat waktu adventure riding situs batu jaya, ini link videonya http://www.youtube.com/watch?v=a6EoMkUHies Sorry ya Mas Nova, jadi kebawa-bawa.

Kalo ada yang males pake Pelican abal-abal, boleh juga pake Pelican asli, cuman harganya muahal, dan saya tidak tahu apa mudah dibor atau tidak. Kalau Pelican abal-abal itu cukup mudah dibor. Berikut penampakan Pelican Brief asli di sebelah Givi TRK33 sebagai perbandingan (ukuran beragam, bukan hanya satu ukuran ini)

IMG_2203

Sip, gitu deh… jadi top box pelican abal-abal yang dipasang permanen ini bisa cukup mengobati kegalauan terkait dengan barang bawaan sehari-hari :).

IMG_5734

Ooo iya, rekan seperjuangan dan senior saya PakDe Yusrilla Kerloza (https://www.facebook.com/kerlooza) juga memakai konfigurasi yang sama di tunggangannya Kanjeng Nyai Merry, hanya ukuran box lebih besar, dan sekarang sedang diuji coba boncengan dengan istri beliau dalam ekspedisi ke pulau sumatra (cek blog perjalanan beliau di http://swarnadwipaexp.net/). Kita tunggu apa memang konfigurasi top box permanen ini memang kuat seperti yang saya duga 🙂 Nyangoni slamet ya PakDe !

Berikut penampilan Kanjeng Nyai Merry dengan top box permanen

10154311_10202541526572532_117923770_nInfo tambahan : karena ada yang tanya, gimana kalo Pelican abal-abal ini dijadikan sidebox, na ini kebetulan ada rekan saya pakar carrier di motor adventure yang pasang juga. Malah pake custom bracket yang bisa quick release, pake kunci, ganteng lah (bracket motornya aja ganteng, apalagi orangnya). Namanya kang Ferry Kana (https://www.facebook.com/ferry.kana), ini penampakan motornya :

998104_10151624724180885_868253070_n

 

Alokasi Daya Listrik di Motor (Electrical Power Budgeting)

Vespa-mods_795796c

“Lebih Besar Pasak daripada Tiang”, hampir semua orang Indonesia yang lulus wajib belajar 6 tahun mengerti arti peribahasa tersebut. Namun dalam hal “momotoran” (hobby motor), seringkali kita lupa tentang makna peribahasa tersebut. Maksud saya bukan beli motor mahal, terus gak bisa bayar cicilannya ya, walaupun ini juga sebaiknya dihindari, lha wong mau seneng kok malah mumet. Yang saya maksud adalah dalam hal kelistrikan. Buktinya banyak yang ngaku akinya pada tekor.

Kita sering kali lupa pada saat menempelkan segala macem asesoris yang memerlukan listrik, mulai yang penting seperti misalkan untuk adventure rider biasanya adalah spot light atau fog light tambahan, atau bisa juga yang tidak penting seperti sirine dan strobo (saya pribadi kurang setuju dengan pemasangan asesoris ini di motor sipil). Hal ini juga terjadi pada saya, secara saya juga suka blusukan biar keliatan gagah di mata anak dan istri saya, seorang adventure rider wannabe paruh baya puber kedua. Dengan impulsifnya saya beli Hella Micro DE dengan bohlam halogen biasa, soalnya kalo yang HID mahal Bro (1.4jt vs 5.4jt Bro). Penampakannya seperti ini :

dsc08581h

Dengan harapan Ki Keboijo penampilannya bakal bisa segagah ini

H2

Setelah beli dari seller di kaskus, sambil nunggu barang datang mulai deh browsing-browsing tentang pro and cons dari pemasangan lampu tambahan ini. Modar deh, potensi masalah mulai keliatan, Hella Micro DE tersebut satu lampu 55 watt, 2 lampu ya total 110 watt, kira-kira kelistrikan Keboijo mencukupi gak ya ? Hal ini menjadi penting lha soalnya pertama : Keboijo tidak dilengkapi dengan kickstarter, jadi kalo tekor ya wis mampus. Didorong ? Bukan alternatif karena sistem suplai bahan bakarnya injeksi, harus mencukupi daya di aki nya (na ini masalah kedua), kalo gak ada aki ya gak ada bensin disemprot. Saya juga sempat ngobrol dengan rekan momotoran, Kang Ferry Kana (https://www.facebook.com/ferry.kana) dan PakDe Yusrilla (https://www.facebook.com/kerlooza), secara beliau-beliau tersebut juga memasang lampu tambahan, dan menginformasikan bahwa memang aki sering jadi tekor, hanya di motor beliau berdua ada indikator low batt mirip smart phone dan ada kickstarter, jadi masih berani pake lampu tambahan di kondisi tertentu asal indikator low batt dipelototin.

Untuk kasus saya dengan Keboijo ? Ya mau tidak mau saya harus melakukan budgeting daya listrik kalau tidak mau sengsara di jalan gara-gara tekor aki. Menurut saya ada dua cara untuk melakukan hal ini.

Cara Pertama

Cara pertama ini adalah dengan berhitung. Listrik di motor kan dihasilkan oleh alternator, jadi buka manual book motor anda dan cari informasi tentang daya listrik yang dihasilkan.

manual

Misalkan kalo untuk motor saya, outputnya adalah 17.4 ampere (arus) 14 volt (tegangan), jadi dayanya adalah (daya = arus x tegangan) 17.4 x 14 = 244 watt. Tentunya ini tidak seratus persen, karena ada kerugian saat merubah dari listrik AC (bolak balik) menjadi DC (searah), jadi untuk amannya dikalikan lagi dengan faktor 80% atau 90%, jadi untuk Keboijo ya sekitar 195. Na ini listrik yang dihasilkan, yang nanti akan dipakai untuk kebutuhan kehidupan motor (ECU, injeksi, lampu, busi, dll) dan melakukan charging aki. Jadi langkah berikutnya adalah melakukan perhitungan seluruh kebutuhan kehidupan motor tersebut, na jadi harus cari-cari info lagi, misal lampunya berapa watt, ECU berapa watt, dan seterusnya. Na, kalo ditotal, semua kebutuhan tersebut harus lebih kecil dari daya yang dihasilkan dan menyisakan untuk amannya perkiraan saya sekitar 20 watt. Jadi untuk kasus Keboijo ya maksimum kebutuhannya ya sekitar 175 watt. Masalahnya, tidak semua informasi kebutuhan daya listrik ini tersedia di manual, jadi ya harus cari di internet atau tanya-tanya. Repot ya ? lha iya, mau bener emang repot. Lha kalo gak mau repot ? Ya pake cara kedua.

Cara Kedua

Cara kedua ini prinsipnya adalah dengan pengukuran, bukan berhitung. Kalau di motor sudah ada colokan listrik yang untuk menyalakan rokok (colokan listrik yang langsung terhubung ke aki, bukan yang dengan regulator), maka kita tinggal beli volt meter yang sesuai seperti berikut (saya beli di kaskus).

Supply-of-automotive-supplies-wholesale-mini-car-cigarette-lighter-voltmeter-DC12-24V-voltage-font-b-safety

Na kalau tidak ada ? Ya bisa juga diukur langsung tegangan di kutub aki dengan multimeter (AVO meter). Atau kalau motor sudah dilengkapi indikator tegangan aki ya malah lebih bagus lagi, tinggal dipelototin. Terus langkah-langkahnya gimana ? 1) Dalam kondisi mesin mati coba dilihat berapa nilai tegangannya ? Kalau masih di atas 12 ya aman, atau kurang-kurang dikit kalo sama temen ya boleh lah, tapi jangan kurang dari 11. Kalo kurang dari 11 ya berarti akinya udah jelek atau alternator pengisian perlu diservis, karena mungkin pengisian aki sebelumnya jelek. 2) Nyalakan mesin, tapi semua lampu dan asesoris dimatikan. Na seharusnya angka yang keluar 13 atau lebih, kalau kurang, berarti alternator pengisian masalah, atau aki udah butut jadi rakus banget ngambil arusnya. Mending periksa ke bengkel deh. 3) Coba nyalakan semua lampu dan asesoris, kalau indikator masih 12 lebih (kalo saya pake patokan 12.5 plus minus) berarti aman, karena pengisian aki masih terjadi. Kalo kurang dari 12, coba cek satu-satu, asesoris mana yang bikin paling tekor, na yang bikin tekor itu yang harus diganti atau diakalin, atau kalo gak mau pusing ya buang aja ke selokan depan rumah. 4) Kalau memang semua sudah OK, volt meter bisa dilepas, tidak perlu nempel di motor terus, kecuali menurut anda itu bisa membuat motor makin keren.

IMG_6279Walhasil, setelah melakukan ini, akhirnya Hella Micro DE tidak jadi nempel di Keboijo, karena daya yang diambil kegedean (total 110 watt). Lha kenapa gak pake bohlam LED ? Sudah dicoba 3 jenis bohlam LED ukuran H3, mulai dari yang gak jelas jenisnya, sampe CREE sampe COB (saya beli bohlam-bohlam H3 ini di aliexpress.com), tapi tidak terang semua, sampe malah jadi mesum saya perasaannya, soalnya cuman temaram. Lha terus gimana ? Untung akhirnya ketemuan dengan Kang Mario Iroth (https://www.facebook.com/mario.iroth), adventure rider kondang dari wheel story pas kopdar bareng rekan-rekan Nusantaride di Bandung. Beliau rekomen untuk pake LED Owl Cree dari Weekend LED (https://www.facebook.com/weekendled.custom). Beli deh saya, dan puas, jadi Keboijo gak kalah gagah lah sama BMW GS yang ada Hella Micro DE nya (kalo ada kesempatan nanti direview deh LED nya). Jadi berkurang dikit lah kegalauan gara-gara urusan penerangan.

IMG_6224Saya baru kepikiran, lha kemungkinan kalo yang nemplok di BMW GS itu ya Hella Micro DE yang HID ya, yang daya nya lebih rendah tapi muahal :)… Ya wis lah.

 

Pencarian Ukuran Ban yang Tepat untuk Ki Keboijo (Michelin Sirac on KLX250SF)

Postingan ini adalah salah satu contoh, kenapa blog ini judulnya “catatan seorang rider galau”. Yang jadi sumber kegalauan kali ini adalah ukuran ban. Saya baru mulai lagi hobby momotoran dari agustus tahun lalu (2013), sebelumnya pernah juga hobby motor tua, tapi berhenti sekitar 2002. Tahun 2013, kebetulan dana tabungan untuk beli motor sudah mencukupi, tapi ya tidak terlalu banyak. Sempat main ke beberapa dealer motor di Bandung, dan akhirnya setelah konsultasi dengan istri tercinta pilihan jatuh ke Kawasaki DTrackerX 250. Istri setuju karena bentuknya tidak terlalu centil, kali takut suaminya genit, padahal genit juga gak akan laku.

Kawasaki DTrackerX 250 adalah motor dengan genre supermoto, singkatnya sebenarnya motor ini adalah motor trail untuk offroad, tapi diberi ban on road. Saya memutuskan mengambil motor jenis ini, karena konon dari berbagai info yang saya baca dari internet, supermoto ini “fun factor” nya termasuk tinggi, namun alasan saya yang lain adalah fleksibilitas. Apakah saya langsung meminang DTrackerX 250 dari showroom ? Tentu tidak, saya memutuskan untuk beli bekas saja, dan akhirnya saya berjodoh dengan sebuah DTrackerX 250 tahun 2011 yang awalnya saya beri nama Ki Kawakijo, namun akhirnya saya ganti nama menjadi Ki Keboijo.

Yang menarik dari Ki Keboijo ini saat saya pinang, dia datang dengan 2 set ban dan baju, setelan trail dan supermoto. Pertama kali datang justru penampilannya bukan supermoto, tapi trail, dengan ban tahu merk Kenda ukuran depan 21 dan belakang 18.

IMG_4507

Saya coba keliling kompleks, ternyata menurut saya kurang nyaman, secara saya orangnya pendek dan saya tidak akan menempuh jalur ekstrem. Jadi akhirnya saya rubah konfigurasinya kembali ke supermoto dengan ban depan 17-110 dan belakang 17-130, merk IRC tipe Roadwinner.

IMG_4521

Konfigurasi ini bertahan cukup lama. Sampai akhirnya saya mencoba jalur semi offroad di daerah kebun teh di selatan Bandung (Kebun Teh Gambung – Malabar – Pangalengan).

IMG_5298

Ternyata ban IRC road winner terasa cukup licin di jalan yang banyak batunya, apalagi saat itu kondisinya hujan. Sering ban belakang terasa selip. Sampai rumah saya coba browsing-browsing cari ban alternatif. Cukup banyak alternatif, bahkan ada rekan pemakai motor BMW GS yang memberi saran memakai merk Avon atau Metzeler, tapi ya itu, dananya tidak mencukupi. Akhirnya pilihan jatuh ke Michelin Sirac, karena kebetulan setelah survey beberapa toko, ban ini tersedia di Inti Motor, Cikawao, Bandung.

Saya beli Michelin Sirac 18 dan 21, velg pake yang lama, ban Kenda dilepas. Saya pakai konfigurasi ini selama sekitar 3 hari tapi akhirnya saya menyimpulkan bahwa konfigurasi ini tidak pas buat saya. Kesimpulan ini datang setelah saya dengan memalukan jatuh di tempat parkir gara-gara motornya terlalu tinggi buat saya. Saya langsung beli Sirac ukuran 18 buat ban depan dengan velgnya sekalian. Konfigurasi ini cukup nyaman dipakai on road dan off road. Untuk ban dual purpose grip Michelin sirac cukup bagus, bahkan di jalan basah. Saya juga coba di jalur semi off road Lembang – Maribaya – Cibodas – Kebun Kina – Ujung Berung, Michelin Sirac 18 – 18 ini cukup memuaskan.

IMG_5341

Namun ya itu, namanya juga rider galau, pasti galaunya ya kembali lagi. Konfigurasi simetri ban depan – belakang kok perasaan saya kurang enak diliat mata saya. Jadi akhirnya saya ganti ban belakang dengan Michelin Sirac ukuran 17-130. Berikut penampilannya.

IMG_5735

Tapi lagi-lagi galaunya kumat. Kali ini problemnya muncul gara-gara kalau si Keboijo dibawa klinong-klinong di jalan halus, setang justru ajrut-ajrutan. Kalau di jalan jelek aman sentosa. Sempat setel velg sampe di-press segala tapi gejala tetap ada. Sempat pula konsultasi di forum adventure bike di FB dan ngobrol dengan temen-temen di Nusantaride. Berdasarkan hasil diskusi ada dua hal yang bisa disimpulkan : pertama, profile ban pengaruh ke kualitas riding terutama jalan halus, kalau pakai ban off road jangan harap bisa mulus di jalan halus (berdasarkan pengalaman Om Ori Wadjo dengan KLX 250 ban bawaan), kedua, tekanan ban kurang. Tekanan di cek normal, udah 30 PSI. Jadi akhirnya pas mau jalan ke Situ Cisanti bareng temen2 Nusantaride, ban depan dikembalikan ke IRC Roadwinner ring 17-110. Eee pas ganti ban ini ketemu fakta baru, ternyata ban depan yang pake Michelin Sirac ring 18, arah rotasinya salah. Jadi akhirnya ban dilepas lagi untuk dibenerin arah rotasi, tapi untuk trip ke Situ Cisanti tetap pake IRC Roadwinner. Selama trip tersebut, perasaan saya kok riding position dan grip masih lebih enak dengan Michelin Sirac, jadi pulang dari trip langsung pasang lagi Michelin Sirac 18-120 yang sudah dibenerin arah rotasinya…. Eee ternyata gejala ajrut-ajrutan berkurang jauh banget, masih ada sih kalo jalan mulus dan jalan keceng, tapi sudah hampir tidak terasa.

Sip deh, hidup jadi lebih tenang, paling tidak pencarian untuk konfigurasi ban yang pas sudah bisa dianggap selesai… paling tidak sampai galau berikutnya datang lagi.

IMG_5724