Arsip Kategori: Tips and Tricks

Tips Sederhana dalam Memotret Adventure dengan Motor

Manusia itu secara umum suka pamer, oleh sebab itu para ahli perilaku sering menyebut manusia sebagai Homo Pamerus, paling tidak itu yang terjadi dalam 10 tahun terakhir. Hal ini yang menyebabkan berbagai social media seperti Facebook, Instagram, Path, Foursquare menjamur dengan pertumbuhan yang cepat. Setiap individu pengen exist dengan menunjukkan “ini lhoo aku barusan makan …. di sini … bareng si …. ” dan lain sebagainya. Naaa fenomena ini pun sebenarnya juga terjadi di kalangan hobbyst motor yang suka blusukan, atau paling tidak yang ngakunya suka blusukan, padahal ya entah blusukan bener apa nggak ya masih belum tentu. Salah satu media untuk sharing (baca : pamer) yang paling efektif ya foto. Kita bisa aja crita betapa indahnya pemandangan yang dilihat, betapa menantangnya jalan yang ditempuh, dan betapa serunya perjalanan sampe mulut berbusa-busa tapi lawan bicara cuman jawab “Ah mosok…. no picture = hoax”, jadi buat seorang Homo Pamerus, foto itu penting !

Wis… supaya tidak berpanjang-panjang, coba kita perhatikan foto sebagai berikut

SONY DSC

Menurut anda foto tersebut bagus apa jelek? Kalau pun tidak bagus, menurut saya sih ya tidak jelek lah. Tapi kesan atau informasi apa yang anda dapat ? Ooo pemandangan yang indah, terus ada perkebunan dengan latar belakang gunung, yah kurang lebih begitu lah.

Na, sekarang coba perhatikan foto sebagai berikut

SONY DSC

Pertanyaan saya, foto mana yang lebih bernuansa adventure ? 🙂 Foto mana yang lebih menunjukkan aktivitas adventure dengan motor. Kalau anda mau crita ke temen / pacar / istri / anak cucu, “Dulu kakek pernah blusukan di daerah Bandung timur, pake motor, jalannya nuanjak, pemandangannya bagus banget”, foto mana yang anda pilih ? Foto pertama atau kedua ? Kalau saya ya foto yang kedua. Dan kalau sekarang saya bertanya, apa beda kedua foto di atas ? ya sudah sangat obvious, foto kedua memasukkan elemen motor dalam frame foto. Hal ini sepertinya sederhana, tapi ini menjawab pertanyaan bahwa kita bisa sampe ke lokasi tesebut dengan motor, bukan dengan kendaraan yang lain, jadi ya itu, ini foto adventure dengan motor ! Na tapi elemen ini jangan menempati porsi yang terlalu besar juga, maksimum banget sepertiga frame, ini pendapat saya pribadi loo ya, kalo lebih dari itu nanti takut dikira iklan motor. Kecuali yang mau dipamerin ya motornya 🙂 Saya sering melihat foto-foto adventure temen-temen yang berisi gambar pemandangan luar biasa, namun jadi sekedar foto landscape yang bagus, bukan foto motorcycle adventure yang bagus.

Menurut saya foto adventure motorcycle yang lebih informatif ya yang mengandung elemen :

  1. dimana
  2. motor
  3. pelaku
  4. kapan
  5. aktifitas lain apa

Sebagai foto adventure dengan motor, minimal komponen 1 dan 2 harus ada, tekniknya ya memasukkan dua elemen tersebut dalam foto. Pelaku bagaimana ? Sekarang kalau saya bertanya, siapa pelaku di foto kedua ? Ya kita sudah tau karena sudut pengambilan adalah first person view, jadi kesan yang didapat dari foto tersebut adalah solo riding ke lokasi tersebut. Tapi apabila diinginkan bisa aja anda pasang tripod, dan foto pemandangan diambil dengan POI (point of interest di foreground) motor dan kita. Namun saran saya sebaiknya pandangan kita jangan melotot ke kamera sambil senyum, kurang cool, ini pendapat saya loo ya. Elemen no 4 (elemen “kapan”) bisa diceritakan dengan mengambil gambar di pagi hari atau sore hari. Misalkan di pagi hari anda bisa mengeksplorasi memasukkan unsur kabut dalam foto anda, jadi tidak usah repot-repot crita, orang yang liat sudah tau fotonya diambil pagi hari.

IMG_5345

Cara lain ambil foto di sore hari dengan nuansa cahaya keemasan, pemirsa biasanya langsung tau kalau foto diambil sore hari. Elemen terakhir (aktifitas tambahan), bisa didapat dengan memasukkan elemen lain ke dalam foto yang terkait dengan aktifitas yang dilakukan, misalkan tenda. Hanya memang tidak selalu mudah memasukkan semua elemen tersebut : pemandangan, motor, orang, tenda dan diambil di saat yang tepat (misalkan saat sunset / sunrise).

Kalau mau motret indoor atau tempat yang tidak mungkin memasukkan elemen motor bagaimana ? Salah satu trik yang saya pake adalah memasukkan riding accessories, dan yang paling mudah ya helm, makanya pilih helm yang penampilannya lumayan 🙂

IMG_2184

Tambahan terakhir, tentang komposisi, sebaiknya hindari penempatan POI (motor, orang, tenda, helm) di tengah bidang gambar, tapi di sepertiga bidang horizontal atau sepertiga bidang vertical atau di titik temu sepertiga vertical dan horizontal, singkatnya ikuti aturan rule of third (http://digital-photography-school.com/rule-of-thirds/).

Contoh penempatan POI (motor) di pertemuan sepertiga horizontal bawah dan sepertiga vertical kanan :

IMG_5147 small

Contoh penempatan POI di sepertiga horizontal bawah

IMG_5160

Tips terakhir yg paling penting : jalan2 sesering mungkin dan motret sebanyak2nya 🙂

Sip, selamat pamer dengan foto-foto adventure anda 🙂

Top Box Motor Permanen… Why Not ?

Saya termasuk orang yang tidak suka kalau ada beban terlalu banyak yang nempel di badan saat riding motor, secara tubuh saya sendiri sudah tebal dan berat, penambahan beban jadi menyebalkan sekali. Konsekuensinya ya harus bawa box, dan pilihan yang paling praktisnya ya top box, karena kalo pake side box terlalu repot untuk dipakai harian di kota.

Cukup banyak merek top box yang beredar di Indonesia, namun secara umum hampir semua menerapkan sistem bongkar pasang dengan kunci quick release. Saya sendiri sudah pernah memasang model Givi E20 dengan sistem bracket Monolock.

IMG_4689

Namun ada beberapa hal yang membuat saya galau dengan konfigurasi tersebut. Yang pertama, kok tinggi banget ya, ukuran box Givi E20 tersebut terlalu besar untuk keperluan saya sehari-hari. Bukannya saya bilang Givi E20 jelek lho ya… cuman buat saya terlalu besar dan tinggi (takut ditimpukin penggemar fanatik E20). Posisi yang tinggi ini membuat manuver terasa kurang lincah, karena (perasaan) titik berat jadi naik. Dan masalah lain yang lebih penting, kok penampilannya jelek ya, jadi mbedhudug, ini masalah besar bagi saya. Alasan kedua adalah, saya sebenarnya tidak perlu sistem bongkar pasangnya, karena ya selalu perlu box tersebut nempel di motor.

Akhirnya timbul ide untuk memasang box yang ukurannya pas dengan kebutuhan saya dan ditempel permanen ke motor. Pilihan box jatuh ke versi abal-abal dari Pelican Brief bermerk Krisbow yang saya dapatkan di Ace Hardware, ukurannya pas dengan tas kerja saya yang berisi satu komputer laptop tua 14 inch. Pelican abal-abal ini selain harganya tidak terlalu mahal (sekitar 600rb an) dia juga kedap air karena ada seal karetnya, jadi cukup aman kalaupun pas lagi hujan. Sampe rumah, saya ukur dengan dudukan yang ada dan langsung bor dan saya baut permanen ke dudukan (saya pake baut dudukan givi, tapi ya baut apapun dengan ring yang cukup lebar tidak masalah, ring lebar penting karena untuk membagi beban). Berikut penampakannya :

IMG_2200

Dalam kondisi tertutup

IMG_2198

dalam kondisi terbuka

IMG_2199

pas diisi dengan tas kerja saya

IMG_2204

Untuk faktor keamanan bisa ditambahkan gembok bila perlu

IMG_2201

Penampilan dengan Ki Keboijo secara keseluruhan

IMG_2197

Kentungannya adalah :

  • ukuran tidak terlalu besar
  • titik berat lebih rendah, lebih tidak mengganggu manuver
  • tahan air
  • terlihat keren dan beda (menurut saya lho ya ini, mau protes boleh)
  • murah, ya murah box nya dan tidak perlu bracket aneh-aneh
  • keren… ooo udah ya
  • murah… halah udah juga ya
  • Lebih kuat buat di bawa jalan jelek, cocok buat yang suka adventure riding jauh

Khusus untuk poin terakhir itu cukup penting buat motor kayak Ki Keboijo, karena sering diajak klinong-klinong menjauhi aspal. Na ini saya jadi inget rekan saya Mas Nova Sisprasojo (https://www.facebook.com/novaholicare), adventure rider yang jagoan bikin pelem, kalo perlu company profile dan lain, ke beliau aja, dijamin cakep, bilangin aja tau dari saya ya…sapa tau saya bisa dapet pemeran figuran di pelem2 beliau nanti (pemeran figuran jadi reco gupolo). Beliau pake E20 yang sempat mencelat waktu adventure riding situs batu jaya, ini link videonya http://www.youtube.com/watch?v=a6EoMkUHies Sorry ya Mas Nova, jadi kebawa-bawa.

Kalo ada yang males pake Pelican abal-abal, boleh juga pake Pelican asli, cuman harganya muahal, dan saya tidak tahu apa mudah dibor atau tidak. Kalau Pelican abal-abal itu cukup mudah dibor. Berikut penampakan Pelican Brief asli di sebelah Givi TRK33 sebagai perbandingan (ukuran beragam, bukan hanya satu ukuran ini)

IMG_2203

Sip, gitu deh… jadi top box pelican abal-abal yang dipasang permanen ini bisa cukup mengobati kegalauan terkait dengan barang bawaan sehari-hari :).

IMG_5734

Ooo iya, rekan seperjuangan dan senior saya PakDe Yusrilla Kerloza (https://www.facebook.com/kerlooza) juga memakai konfigurasi yang sama di tunggangannya Kanjeng Nyai Merry, hanya ukuran box lebih besar, dan sekarang sedang diuji coba boncengan dengan istri beliau dalam ekspedisi ke pulau sumatra (cek blog perjalanan beliau di http://swarnadwipaexp.net/). Kita tunggu apa memang konfigurasi top box permanen ini memang kuat seperti yang saya duga 🙂 Nyangoni slamet ya PakDe !

Berikut penampilan Kanjeng Nyai Merry dengan top box permanen

10154311_10202541526572532_117923770_nInfo tambahan : karena ada yang tanya, gimana kalo Pelican abal-abal ini dijadikan sidebox, na ini kebetulan ada rekan saya pakar carrier di motor adventure yang pasang juga. Malah pake custom bracket yang bisa quick release, pake kunci, ganteng lah (bracket motornya aja ganteng, apalagi orangnya). Namanya kang Ferry Kana (https://www.facebook.com/ferry.kana), ini penampakan motornya :

998104_10151624724180885_868253070_n

 

Bagaimana Membuat Jok Motor Trail / Dual Sport Menjadi Lebih Nyaman ?

Motor dual sport atau mungkin sering dikenal motor trail atau ada juga yang menyebut enduro (wah beda ini…. ya boleh lah kalo mau protes, saya sih liatnya secara umum sama) merupakan salah satu pilihan yang menarik untuk dipakai dalam adventure riding yang melibatkan track on road dan off road. Peredam kejut dengan jarak main yang panjang dan ground clearance yang tinggi, dikombinasikan dengan ukuran dan profil ban yang sesuai (http://wp.me/p4xDdm-w), membuat motor ini sangat weenaak untuk dibawa klinong-klinong di tempat yang gak jelas ada aspalnya atau tidak. Ini juga alasan kenapa Ki Keboijo merupakan motor jenis ini. Tapi apakah tidak ada kelemahannya ? Menurut saya ada dua kelemahan motor jenis ini, paling tidak yang saya temui di Keboijo, yang pertama kapasitas bahan bakar yang kecil (wah kalo bahas ini kok jadi pengen Kawasaki KLR ya…. Oh KLR, kapan bisa beli KLR ya), yang dapat diatasi dengan membawa tangki cadangan (nanti dibahas di postingan lain deh). Masalah kedua adalah bentuk jok yang bikin rider berpantat gede kayak saya jadi menderita, baru duduk sejam aja udah terasa panas. Na masalah kedua ini yang menjadi topik utama dalam postingan kali ini.

Saya sempat galau cukup lama gara-gara masalah ini. Pas lagi browsing-browsing di internet sempat kenalan dengan Mas Yudistiro Kusno (https://www.facebook.com/yudistiro.kusno), yang ternyata rider super kondang karena pernah ikutan Rally Paris Dakar. Beliau juga punya KLX 250, dan joknya sudah diganti dengan Sargent Seat. Beliau rekomen jok itu, wuih ya saya jelas ngiler, sayang harganya kok tidak terjangkau dompet saya, rider dhuafa ini…

Nih penampakan Sargent Seat yang ganteng menawan tersebut buat yang penasaran.

ws_610_main

Search aja di Internet buat spek nya, material dan bentuk emang cakep banget. Kalo ada yang minat, kontak Mas Yudistiro aja, bilangin tau dari saya (nama panggung saya Widyawardana atau Doni, sebutin ya, sapa tau dapat diskon, dan saya kecipratan komisinya).

Sempat kepikiran mau menebalkan jok, tapi sayang sama jok ori nya kalau kulitnya dikupas. Nyari jok abal-abal buat KLX 250 / DTrackerX 250 gak nemu. Beli yang ori, mahal banget, kalo gak salah 1.8jt, itu pun pesen lama, keburu lumutan. Keliling-keliling ke tukang jok dan liat contoh KLX150 yang ditebelin joknya tapi kok jadi gak selera pas liat, kayak operasi plastik suntik botox tapi gagal ….hooekkk, gak selera lah.

Akhirnya ketemu satu alternatif solusi. Di salah satu forum adventure riding (http://www.thumpertalk.com/topic/567688-where-can-i-order-sweetcheeks-from/), di situ disebut satu produk untuk mengangkut botol minuman atau bensin cadangan, dan sekaligus melebarkan penampang jok motor. Penampakannya sebagai berikut

sweet-cheeks1

Fakta yang menarik dari berbagai informasi yang saya dapat di internet, ternyata faktor kenyamanan lebih ditentukan oleh lebar jok dan bukan melulu oleh tebal jok, sehingga produk seperti di atas itu, sebut saja gondal-gandul, cukup efektif untuk mengurangi gejala pantat panas saat riding lama. Buat yang tertarik beli aslinya ada di sini http://cycle-analyst.com/sweetcheeks, tapi ya lumayan harga dan ongkirnya. Dan yang menarik lagi ternyata gondal-gandul cukup sederhana untuk dibuat oleh kebanyakan tukang lapis jok pada umumnya. Akhirnya saya meluncur mencari ke tukang jok sambil membawa gambar contoh gondal-gandul tersebut (saya ke tukang jok di jl PH. Mustafa, Bandung, dekat perempatan yang ke RS Santo Yusuf, nama tukang jok nya Mas Purnomo). Saya tidak banyak cingcong, saya serahkan saja tukang jok untuk berkreasi . Akhirnya jadilah gondal-gandulnya sebagai berikut, saya pake ukuran botol trangia untuk membawa bensin, dan ternyata pas juga untuk botol Pocari Sweat ukuran tanggung.

IMG_6291

Botolnya sendiri ditahan pake prepet / velcro, jadi aman, sebetulnya karena ukurannya ngepas tidak perlu khawatir lepas walau tidak pake velcro.

IMG_6292

Pada saat dipasang ditambah tali pengaman (webbing tas), yang dilengkapi dengan buckle (ooo iya, di tukang jok gak ada webbing dan
tas, jadi bawa sendiri ya).

IMG_6294

Kalau tidak dipakai bisa dilipat dengan ukuran yang tidak terlalu besar.

IMG_6289

Lumayan lah, untuk riding lama, bisa mengurangi gejala pantat panas, dan yang juga penting, menambah “cool factor” dari Keboijo,
kesannya mau kemana gitu. Ooo iya, pas postingan ini ditulis, saya lagi bikin juga buat botol aqua yang gede, untuk keperluan kalo mau
camping pake motor.

IMG_5317

Ooo iya, kalo masih tetep cepet panas pantatnya, bisa dicoba satu tips lagi, jangan pake celana dalam pas riding lama, serius ini.

 

 

Alokasi Daya Listrik di Motor (Electrical Power Budgeting)

Vespa-mods_795796c

“Lebih Besar Pasak daripada Tiang”, hampir semua orang Indonesia yang lulus wajib belajar 6 tahun mengerti arti peribahasa tersebut. Namun dalam hal “momotoran” (hobby motor), seringkali kita lupa tentang makna peribahasa tersebut. Maksud saya bukan beli motor mahal, terus gak bisa bayar cicilannya ya, walaupun ini juga sebaiknya dihindari, lha wong mau seneng kok malah mumet. Yang saya maksud adalah dalam hal kelistrikan. Buktinya banyak yang ngaku akinya pada tekor.

Kita sering kali lupa pada saat menempelkan segala macem asesoris yang memerlukan listrik, mulai yang penting seperti misalkan untuk adventure rider biasanya adalah spot light atau fog light tambahan, atau bisa juga yang tidak penting seperti sirine dan strobo (saya pribadi kurang setuju dengan pemasangan asesoris ini di motor sipil). Hal ini juga terjadi pada saya, secara saya juga suka blusukan biar keliatan gagah di mata anak dan istri saya, seorang adventure rider wannabe paruh baya puber kedua. Dengan impulsifnya saya beli Hella Micro DE dengan bohlam halogen biasa, soalnya kalo yang HID mahal Bro (1.4jt vs 5.4jt Bro). Penampakannya seperti ini :

dsc08581h

Dengan harapan Ki Keboijo penampilannya bakal bisa segagah ini

H2

Setelah beli dari seller di kaskus, sambil nunggu barang datang mulai deh browsing-browsing tentang pro and cons dari pemasangan lampu tambahan ini. Modar deh, potensi masalah mulai keliatan, Hella Micro DE tersebut satu lampu 55 watt, 2 lampu ya total 110 watt, kira-kira kelistrikan Keboijo mencukupi gak ya ? Hal ini menjadi penting lha soalnya pertama : Keboijo tidak dilengkapi dengan kickstarter, jadi kalo tekor ya wis mampus. Didorong ? Bukan alternatif karena sistem suplai bahan bakarnya injeksi, harus mencukupi daya di aki nya (na ini masalah kedua), kalo gak ada aki ya gak ada bensin disemprot. Saya juga sempat ngobrol dengan rekan momotoran, Kang Ferry Kana (https://www.facebook.com/ferry.kana) dan PakDe Yusrilla (https://www.facebook.com/kerlooza), secara beliau-beliau tersebut juga memasang lampu tambahan, dan menginformasikan bahwa memang aki sering jadi tekor, hanya di motor beliau berdua ada indikator low batt mirip smart phone dan ada kickstarter, jadi masih berani pake lampu tambahan di kondisi tertentu asal indikator low batt dipelototin.

Untuk kasus saya dengan Keboijo ? Ya mau tidak mau saya harus melakukan budgeting daya listrik kalau tidak mau sengsara di jalan gara-gara tekor aki. Menurut saya ada dua cara untuk melakukan hal ini.

Cara Pertama

Cara pertama ini adalah dengan berhitung. Listrik di motor kan dihasilkan oleh alternator, jadi buka manual book motor anda dan cari informasi tentang daya listrik yang dihasilkan.

manual

Misalkan kalo untuk motor saya, outputnya adalah 17.4 ampere (arus) 14 volt (tegangan), jadi dayanya adalah (daya = arus x tegangan) 17.4 x 14 = 244 watt. Tentunya ini tidak seratus persen, karena ada kerugian saat merubah dari listrik AC (bolak balik) menjadi DC (searah), jadi untuk amannya dikalikan lagi dengan faktor 80% atau 90%, jadi untuk Keboijo ya sekitar 195. Na ini listrik yang dihasilkan, yang nanti akan dipakai untuk kebutuhan kehidupan motor (ECU, injeksi, lampu, busi, dll) dan melakukan charging aki. Jadi langkah berikutnya adalah melakukan perhitungan seluruh kebutuhan kehidupan motor tersebut, na jadi harus cari-cari info lagi, misal lampunya berapa watt, ECU berapa watt, dan seterusnya. Na, kalo ditotal, semua kebutuhan tersebut harus lebih kecil dari daya yang dihasilkan dan menyisakan untuk amannya perkiraan saya sekitar 20 watt. Jadi untuk kasus Keboijo ya maksimum kebutuhannya ya sekitar 175 watt. Masalahnya, tidak semua informasi kebutuhan daya listrik ini tersedia di manual, jadi ya harus cari di internet atau tanya-tanya. Repot ya ? lha iya, mau bener emang repot. Lha kalo gak mau repot ? Ya pake cara kedua.

Cara Kedua

Cara kedua ini prinsipnya adalah dengan pengukuran, bukan berhitung. Kalau di motor sudah ada colokan listrik yang untuk menyalakan rokok (colokan listrik yang langsung terhubung ke aki, bukan yang dengan regulator), maka kita tinggal beli volt meter yang sesuai seperti berikut (saya beli di kaskus).

Supply-of-automotive-supplies-wholesale-mini-car-cigarette-lighter-voltmeter-DC12-24V-voltage-font-b-safety

Na kalau tidak ada ? Ya bisa juga diukur langsung tegangan di kutub aki dengan multimeter (AVO meter). Atau kalau motor sudah dilengkapi indikator tegangan aki ya malah lebih bagus lagi, tinggal dipelototin. Terus langkah-langkahnya gimana ? 1) Dalam kondisi mesin mati coba dilihat berapa nilai tegangannya ? Kalau masih di atas 12 ya aman, atau kurang-kurang dikit kalo sama temen ya boleh lah, tapi jangan kurang dari 11. Kalo kurang dari 11 ya berarti akinya udah jelek atau alternator pengisian perlu diservis, karena mungkin pengisian aki sebelumnya jelek. 2) Nyalakan mesin, tapi semua lampu dan asesoris dimatikan. Na seharusnya angka yang keluar 13 atau lebih, kalau kurang, berarti alternator pengisian masalah, atau aki udah butut jadi rakus banget ngambil arusnya. Mending periksa ke bengkel deh. 3) Coba nyalakan semua lampu dan asesoris, kalau indikator masih 12 lebih (kalo saya pake patokan 12.5 plus minus) berarti aman, karena pengisian aki masih terjadi. Kalo kurang dari 12, coba cek satu-satu, asesoris mana yang bikin paling tekor, na yang bikin tekor itu yang harus diganti atau diakalin, atau kalo gak mau pusing ya buang aja ke selokan depan rumah. 4) Kalau memang semua sudah OK, volt meter bisa dilepas, tidak perlu nempel di motor terus, kecuali menurut anda itu bisa membuat motor makin keren.

IMG_6279Walhasil, setelah melakukan ini, akhirnya Hella Micro DE tidak jadi nempel di Keboijo, karena daya yang diambil kegedean (total 110 watt). Lha kenapa gak pake bohlam LED ? Sudah dicoba 3 jenis bohlam LED ukuran H3, mulai dari yang gak jelas jenisnya, sampe CREE sampe COB (saya beli bohlam-bohlam H3 ini di aliexpress.com), tapi tidak terang semua, sampe malah jadi mesum saya perasaannya, soalnya cuman temaram. Lha terus gimana ? Untung akhirnya ketemuan dengan Kang Mario Iroth (https://www.facebook.com/mario.iroth), adventure rider kondang dari wheel story pas kopdar bareng rekan-rekan Nusantaride di Bandung. Beliau rekomen untuk pake LED Owl Cree dari Weekend LED (https://www.facebook.com/weekendled.custom). Beli deh saya, dan puas, jadi Keboijo gak kalah gagah lah sama BMW GS yang ada Hella Micro DE nya (kalo ada kesempatan nanti direview deh LED nya). Jadi berkurang dikit lah kegalauan gara-gara urusan penerangan.

IMG_6224Saya baru kepikiran, lha kemungkinan kalo yang nemplok di BMW GS itu ya Hella Micro DE yang HID ya, yang daya nya lebih rendah tapi muahal :)… Ya wis lah.

 

Pencarian Ukuran Ban yang Tepat untuk Ki Keboijo (Michelin Sirac on KLX250SF)

Postingan ini adalah salah satu contoh, kenapa blog ini judulnya “catatan seorang rider galau”. Yang jadi sumber kegalauan kali ini adalah ukuran ban. Saya baru mulai lagi hobby momotoran dari agustus tahun lalu (2013), sebelumnya pernah juga hobby motor tua, tapi berhenti sekitar 2002. Tahun 2013, kebetulan dana tabungan untuk beli motor sudah mencukupi, tapi ya tidak terlalu banyak. Sempat main ke beberapa dealer motor di Bandung, dan akhirnya setelah konsultasi dengan istri tercinta pilihan jatuh ke Kawasaki DTrackerX 250. Istri setuju karena bentuknya tidak terlalu centil, kali takut suaminya genit, padahal genit juga gak akan laku.

Kawasaki DTrackerX 250 adalah motor dengan genre supermoto, singkatnya sebenarnya motor ini adalah motor trail untuk offroad, tapi diberi ban on road. Saya memutuskan mengambil motor jenis ini, karena konon dari berbagai info yang saya baca dari internet, supermoto ini “fun factor” nya termasuk tinggi, namun alasan saya yang lain adalah fleksibilitas. Apakah saya langsung meminang DTrackerX 250 dari showroom ? Tentu tidak, saya memutuskan untuk beli bekas saja, dan akhirnya saya berjodoh dengan sebuah DTrackerX 250 tahun 2011 yang awalnya saya beri nama Ki Kawakijo, namun akhirnya saya ganti nama menjadi Ki Keboijo.

Yang menarik dari Ki Keboijo ini saat saya pinang, dia datang dengan 2 set ban dan baju, setelan trail dan supermoto. Pertama kali datang justru penampilannya bukan supermoto, tapi trail, dengan ban tahu merk Kenda ukuran depan 21 dan belakang 18.

IMG_4507

Saya coba keliling kompleks, ternyata menurut saya kurang nyaman, secara saya orangnya pendek dan saya tidak akan menempuh jalur ekstrem. Jadi akhirnya saya rubah konfigurasinya kembali ke supermoto dengan ban depan 17-110 dan belakang 17-130, merk IRC tipe Roadwinner.

IMG_4521

Konfigurasi ini bertahan cukup lama. Sampai akhirnya saya mencoba jalur semi offroad di daerah kebun teh di selatan Bandung (Kebun Teh Gambung – Malabar – Pangalengan).

IMG_5298

Ternyata ban IRC road winner terasa cukup licin di jalan yang banyak batunya, apalagi saat itu kondisinya hujan. Sering ban belakang terasa selip. Sampai rumah saya coba browsing-browsing cari ban alternatif. Cukup banyak alternatif, bahkan ada rekan pemakai motor BMW GS yang memberi saran memakai merk Avon atau Metzeler, tapi ya itu, dananya tidak mencukupi. Akhirnya pilihan jatuh ke Michelin Sirac, karena kebetulan setelah survey beberapa toko, ban ini tersedia di Inti Motor, Cikawao, Bandung.

Saya beli Michelin Sirac 18 dan 21, velg pake yang lama, ban Kenda dilepas. Saya pakai konfigurasi ini selama sekitar 3 hari tapi akhirnya saya menyimpulkan bahwa konfigurasi ini tidak pas buat saya. Kesimpulan ini datang setelah saya dengan memalukan jatuh di tempat parkir gara-gara motornya terlalu tinggi buat saya. Saya langsung beli Sirac ukuran 18 buat ban depan dengan velgnya sekalian. Konfigurasi ini cukup nyaman dipakai on road dan off road. Untuk ban dual purpose grip Michelin sirac cukup bagus, bahkan di jalan basah. Saya juga coba di jalur semi off road Lembang – Maribaya – Cibodas – Kebun Kina – Ujung Berung, Michelin Sirac 18 – 18 ini cukup memuaskan.

IMG_5341

Namun ya itu, namanya juga rider galau, pasti galaunya ya kembali lagi. Konfigurasi simetri ban depan – belakang kok perasaan saya kurang enak diliat mata saya. Jadi akhirnya saya ganti ban belakang dengan Michelin Sirac ukuran 17-130. Berikut penampilannya.

IMG_5735

Tapi lagi-lagi galaunya kumat. Kali ini problemnya muncul gara-gara kalau si Keboijo dibawa klinong-klinong di jalan halus, setang justru ajrut-ajrutan. Kalau di jalan jelek aman sentosa. Sempat setel velg sampe di-press segala tapi gejala tetap ada. Sempat pula konsultasi di forum adventure bike di FB dan ngobrol dengan temen-temen di Nusantaride. Berdasarkan hasil diskusi ada dua hal yang bisa disimpulkan : pertama, profile ban pengaruh ke kualitas riding terutama jalan halus, kalau pakai ban off road jangan harap bisa mulus di jalan halus (berdasarkan pengalaman Om Ori Wadjo dengan KLX 250 ban bawaan), kedua, tekanan ban kurang. Tekanan di cek normal, udah 30 PSI. Jadi akhirnya pas mau jalan ke Situ Cisanti bareng temen2 Nusantaride, ban depan dikembalikan ke IRC Roadwinner ring 17-110. Eee pas ganti ban ini ketemu fakta baru, ternyata ban depan yang pake Michelin Sirac ring 18, arah rotasinya salah. Jadi akhirnya ban dilepas lagi untuk dibenerin arah rotasi, tapi untuk trip ke Situ Cisanti tetap pake IRC Roadwinner. Selama trip tersebut, perasaan saya kok riding position dan grip masih lebih enak dengan Michelin Sirac, jadi pulang dari trip langsung pasang lagi Michelin Sirac 18-120 yang sudah dibenerin arah rotasinya…. Eee ternyata gejala ajrut-ajrutan berkurang jauh banget, masih ada sih kalo jalan mulus dan jalan keceng, tapi sudah hampir tidak terasa.

Sip deh, hidup jadi lebih tenang, paling tidak pencarian untuk konfigurasi ban yang pas sudah bisa dianggap selesai… paling tidak sampai galau berikutnya datang lagi.

IMG_5724

 

Review Saddlebag Mokita Venom

IMG_6251

Buat saya naik motor itu enak, engagement dengan lingkungan terasa sekali kalo naik motor. Angin, cuaca, sampe bau yang enak (kalau lewat warung sate) sampe bau yang tidak enak (kalo lewat dekat selokan) semua langsung terasa. Namun masalahnya kalo ternyata kita harus membawa barang bawaan. Na di sini perlu adanya tas yang memang khusus harus nempel di motor.

Banyak produk tas hard case berupa side box dan top box yang tersedia di pasaran, berbagai merk, berbagai ukuran dan berbagai harga. Saya sendiri pakai berbagai jenis produk tersebut di motor saya yang lain Ki Keboijo(Kawasaki DTrackerX 250), nanti akan dibahas tersendiri di postingan yang lain. Namun bagi yang sudah pernah pasang side box dan top box, yang paling menyebalkan ada urusan bracket untuk mounting box tesebut. Beli sih seneng, masang atau bikin bracketnya menyebalkan. Khusus untuk Ki Woles (Kawasaki Estrella), saya males pake side box hard case, karena males setting mounting bracketnya. Mounting bracket yang rigid perlu untuk travelling di jalan offroad, jadi memang pas utk Ki Keboijo, tapi utk Ki Woles saya pikir tidak perlu toh jalannya pasti milih on road. Naa, jadi kepikiran untuk mulai mencari saddle bag aja, yang tinggal gantung di jog belakang. Kenapa gak pake saddlebag yang di atas ? Soalnya saya pengen tetap bisa boncengan dengan bekas pacar pake motor ini (lha ini alesan utama beli motor ini, buat klinong-klinong sama bekas pacar). Jadi ya harus nyari saddle bag yang digantung kiri kanan.

Pas browsing-browsing, nemu saddle bag yang menarik, merk Kappa yang sepertinya pas buat , seperti ini

0.0.1.tk750

tapi sayangnya di Indonesia kok tidak ada yang jual. Mau beli langsung keluar berat di ongkos kirim dan pajak, sementara harganya sendiri cukup mahal (di ebay.com 120$, kurs Rp 11.500, ongkir bisa 50$ sendiri, pajak 40%). Iseng-iseng posting di komunitas box motor di facebook (https://www.facebook.com/groups/319519934817144/permalink/458702450898891/) …. eee ada yang kasih saran pake Mokita Venom, thanks buat Bro Muhammad Wahyu Muharam (https://www.facebook.com/wahyu4azza). Akhirnya saya cari online sellernya, dapet dari TokoBagus.com.

Tiga hari berikutnya barang datang. Kemasan cukup ringkas karena tulang plastiknya dilepas dan kita harus pasang sendiri dalam calah dan kemudian ditutup risleting (maaf tidak saya foto, males nglepas lagi). Menurut saya saddle bag Mokita Venom ini cukup bagus untuk harga 375rb (di luar ongkir), cukup pas dengan Ki Woles. Pemasangan sederhana, ada 7 tali yang bisa dipakai untuk menempelkan ke motor kita, dan saya pikir 7 tali tersebut cukup aman untuk perjalanan on road.

2 buah tali dengan velcro dan satu tali dengan buckle (kayaknya yang buckle ini untuk gendong juga) yang bisa dijepit di bawah jok

IMG_6275

sepasang tali untuk pengaman ke frame motor, dilengkapi buckle

IMG_6262

dan sepasang tali dengan velcro besar untuk menggantung di atas jok

IMG_6265

Saddle bag ini berkapasitas 27 liter, jadi total 54 liter, lebih dari cukup untuk berdua. Untuk membuka tutup tinggal buka rislesting dan tutup bisa dibuka ke atas, sehingga isi tidak akan tumpah.

IMG_6266

Untuk perlindungan dari hujan, sudah disediakan rain cover seperti gambar berikut, semoga cukup protektif

IMG_6267

Dilihat dari belakang, Mokita Venom ini dilengkapi dengan scotchlight, sehingga untuk perjalanan malam cukup memberikan faktor safety apabila terkena sorot lampu dari belakang.

IMG_6272

Secara statis, saya cukup puas dengan Mokita Venom (catatan : saya tidak ada afiliasi apapun dengan Mokita lho ya), na kalo dibawa jalan belum tau, moga-moga weekend ini bisa dicoba. Wis, spertinya cukup reviewnya, berikut foto-foto tambahan.

 IMG_6253

IMG_6270